We always ask, "God we want Your presence be felt every one in this place". You know what is mean? That's mean we ask, "Let people realize Your grace real on them".
Do you remember this, when Christ was born in this world, He was named Immanuel, It's mean God with Us. So, it's mean when you believe in Christ as Your God, you shall be saved when you asked something by Christ, so Immanuel is always be with you. Although you felt in sin, although you were not read your bible or pray, He is always be with you.
But, how poor when you're not praying, you don't have a relationship with God. How poor when you are not read your bible, cause you don't know Him more. When you felt and felt again in sin, too realy poor you are, you broke a relationship with Our Father.
Jesus came in this world to brought 'a relationship'. He restore a broken relationship between God and you. He teach us how to build a great relationship not only with Father, but with this world too. We can build a relationship with ourself, with family, with neighbour, with our business' partner, our customer, our client, etc.
In a big company, there is a tool to manage customer, that's called CRM (Customer Relationship Management). CRM is a tool to collect information from one by one customers.
World so need a relationship. Jesus came to brought a relationship. We are now have a relationship with Father, why we are not share it to the world.
People feel inferior because of 'lack some relationship'. When people didn't feel secure and feel lost they meaning, they don't want to share theirself and then they so close to other people, and the end of the day, they lack some relationship. Therefore they feel inferior.
When we put trust in Christ, we've already became a child of God. We know in the first of time, we recognize God as Elohim, it's mean God as a creator. He is a creative God, right? So, when we became a child of God, we should be creatived too, right. It's mean we must be an excellence, we must be smart, there's no choice!
Bible said, "but be transformed by the renewal of your mind". Mind is physic, that's mean ideals and attitude. Ideals, we got it cause we learn, improve and upgrade our knowledge so we got some value. Attitude, we got from 'know' something and we use or we apply the 'value' in our life. Both are possiblely we shine the world.
"Be shine! Let the people see your good work". 'Good work' in Greek is 'kalos', which is translate excellence, beautiful. So, if you are son or daughter of God, you must realize, you must be a smart one, excellence in your work, all out! It must be possible. Do your work with responbility, excellence. Just do whatever your work like do it for God. Be a different generation, make some impact. All of our doing is for the glory of God, Christ Jesus.
Iyut
Kamis, 09 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
Siapa Orang di Belakangnya?
Siapa orang di Belakangnya?
Setiap pemerintahan suatu negara atau kerajaan tidaklah dapat berjalan single fighter bak selayaknya superman, tetapi selalu dibutuhkan super team. Raja memiliki para penasehat. Raja juga diawasi oleh senat atau klo di Indo dikenal dgn DPR. Seringkali raja hanya memilih dan memutuskan segala sesuatu (pilihan) yg telah disediakan oleh penasehatnya. Keberhasilan raja juga ditentukan oleh para penasehat, yaitu orang-orang di belakang raja. Kita akan melihat contoh berdasarkan beberapa fakta sejarah.
“Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil”. (2 Taw 26:5)
Uzia, dalam usia 16 tahun harus menggantikan ayahnya Amazia menjadi raja. Amazia adalah orang yang takut akan Allah. Uzia, dalam bimbingan nabi Zakharia, ia menjadi raja yang takut akan Allah, sehingga Tuhan membuatnya hidup makmur, ia merebut kota Elot dan membangunnya kembali. Dia mengalahkan Filistin, Arab dan Meunim. Namanya termasyur sampai ke Mesir. Menjadi petani dan peternak yang ulung, dan bla…bla…bla…. Tapi sayang, setelah Zakharia tidak ada, dan menjadi tinggi hati sampai berubah setia kepada Tuhan.
“Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN selama hidup imam Yoyada”. (2Taw 24:2)
Yoas berusia 7 tahun ketika diangkat menjadi raja. Yoas juga mempunyai mentor yang mengajarinya takut akan Tuhan, sehingga dia berkenan di hadapan Tuhan. Dalam masa pemerintahannya, ia membangun rumah Tuhan. Sayang sekali, ketika imam Yoyada mati, mereka kembali menyembah berhala.
Kisah-kisah seorang raja, tidaklah hanya ditentukan oleh raja itu sendiri tetapi juga kepada orang-orang dibelakangnya. Daud juga punya seorang penasehat yang sangat dipercayainya. Sangkin dipercayai, nasihatnya disetarakan dengan nasehat Allah sendiri (2 Sam 16:23). Kesuksesan seorang raja selalu bergantung kepada orang-orang dibalik pemerintahannya itu.
Raja Nero (54 M – 68 M) menjadi raja ketika umur 17 thn, pada dasarnya adalah seorang yang pemalu dan penakut. Namun para penasehatnyalah yang membentuk dia menjadi seorang raja yang bengis. Salah satu nasehat Seneca, “Seorang Kaisar boleh melakukan apa saja, boleh berbohong, curang dan jika terpaksa membunuh …. Berkuasalah bagai dewa”. Bukan hanya penasehatnya yang mengajarinya menjadi makhluk bengis, namun istrinya juga, Poppaea. Dan akhirnya bukan saja orang tuanya yg berakhir di tangannya, istrinya juga. Dan diprediksikan Rasul Petrus disalib terbalik dan Rasul Paulus (kemungkinan 67 M di Efesus) dipenggal oleh Nero. Nero juga melakukan pembantaian terhadap kaum bangsawan dan orang-orang kaya di Senat dan mengambil warisan yang mereka tinggalkan (64 M – 68 M).
Zaman Tuhan Yesus (kira-kira periode 5 SM – 30 M) adalah ketika dipimpin oleh Kaisar Tiberius (14 M – 37 M). Kaisar Tiberius adalah kaisar yang membela rakyat jajahannya. Namun tidak sepemikiran dengan para kaum bangsawan dan Senator, visi kaisar tidak dapat dijalankan. Kaisar bahkan ingin membebaskan rakyat dari pajak (menurut dokumentasi BBC yang ditulis oleh DR. Peter Heater). Mungkin itulah sebabnya orang Farisi dan orang-orang Herodian menanyakan hal yang menjebak Yesus, “apa boleh bayar pajak ke kaisar?” (Mat 22:17). Penjajahan Roma terhadap Judea, membuat orang Farisi ingin mempertahankan keoriginalan mereka dan menekan orang lain.
Teman-teman rekan muda, sebentar lagi pemilu tiba. Kita harus menggunakan hak pilih kita. Contoh-contoh di atas memberikan kita referensi untuk mengurangi kebingungan kita. Tentu saja kita harus berdoa dulu dan minta hikmat Tuhan. Saya berharap, kita tidak dtg ke TPS dengan 'blank' dan berharap tiba2 Tuhan berbicara harus pilih apa. Kita harus mempersiapkan pilihan kita juga. Kita bisa menganalisa dan memperhatikan nasihat orang2 yg dpt kita percayai. (Bukan berarti kita terpaksa ikut memilih pilihan mereka)
Elisa adalah seorang nabi, ketika ia tinggal di rumah perempuan kaya Sunem, ia kagum akan kebaikan perempuan ini, sehingga ia ingin membalas jasa. Elisa minta tolong kepada Gehazi utk cari tau apa yang dibutuhkan perempuan ini. Dalam pikiran saya, bukankah Elisa nabi Tuhan, kenapa ga nanya aja ke Tuhan. Toh nanti Elisa juga memohonkan doa utk perempuan ini. Elisa butuh info dari Gehazi, bujangnya itu. (2 Raj 4:14)
Gunakanlah info yg kita dapat dgn tepat. Sebagai referensi, lihat juga siapa orang yang ada di belakang orang yang kita pilih, karna seringkali ide dari para penasehat lebih sering digunakan.
“Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini”. (Amsal 21:1). “Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia…” (Ezra1:1). “Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga ia menyemarakkan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem,” (Ezra 7:27).
Tuhan dapat mengubahkan hati raja. Hati raja ada di dalam tanganNya. Melalui doa dan permohonan anak-anak Tuhan, pastilah Tuhan mau menggerakkan hati raja. Itulah sebabnya kita harus mendoakan pemerintah kita, sebab tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tanpa rakyat runtuhlah pemerintah (Amsal 14:28). Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah (Roma 13:1). Pemerintah adalah hamba Allah (Roma 1:4). Kita harus tunduk kepada pemerintah (Tit 3:1).
Membaca ayat2 ttg pemerintah di atas, bukan berarti kita hanya "berserah" alias masa bodoh. Tuhan memang bisa menggerakkan hati raja, tetapi karena ada org benar yang memintanya. Ingat, kita harus tunduk kepada pemerintah. So pilihlah sesuai dengan hati nurani.
Berdoalah supaya keadilan bisa ditegakkan di bangsa ini. Berdoalah supaya kita anak2 Tuhan tetap bisa beribadah kepada Tuhan, kendatipun kita tau akan datang masa2 sukar bagi anak-anak Tuhan. Sekiranya itu terjadi, biar doamu menyelamatkan dirimu sendiri spt Abraham. Tuhan Yesus memberkati.
Selamat memilih!!!
Setiap pemerintahan suatu negara atau kerajaan tidaklah dapat berjalan single fighter bak selayaknya superman, tetapi selalu dibutuhkan super team. Raja memiliki para penasehat. Raja juga diawasi oleh senat atau klo di Indo dikenal dgn DPR. Seringkali raja hanya memilih dan memutuskan segala sesuatu (pilihan) yg telah disediakan oleh penasehatnya. Keberhasilan raja juga ditentukan oleh para penasehat, yaitu orang-orang di belakang raja. Kita akan melihat contoh berdasarkan beberapa fakta sejarah.
“Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil”. (2 Taw 26:5)
Uzia, dalam usia 16 tahun harus menggantikan ayahnya Amazia menjadi raja. Amazia adalah orang yang takut akan Allah. Uzia, dalam bimbingan nabi Zakharia, ia menjadi raja yang takut akan Allah, sehingga Tuhan membuatnya hidup makmur, ia merebut kota Elot dan membangunnya kembali. Dia mengalahkan Filistin, Arab dan Meunim. Namanya termasyur sampai ke Mesir. Menjadi petani dan peternak yang ulung, dan bla…bla…bla…. Tapi sayang, setelah Zakharia tidak ada, dan menjadi tinggi hati sampai berubah setia kepada Tuhan.
“Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN selama hidup imam Yoyada”. (2Taw 24:2)
Yoas berusia 7 tahun ketika diangkat menjadi raja. Yoas juga mempunyai mentor yang mengajarinya takut akan Tuhan, sehingga dia berkenan di hadapan Tuhan. Dalam masa pemerintahannya, ia membangun rumah Tuhan. Sayang sekali, ketika imam Yoyada mati, mereka kembali menyembah berhala.
Kisah-kisah seorang raja, tidaklah hanya ditentukan oleh raja itu sendiri tetapi juga kepada orang-orang dibelakangnya. Daud juga punya seorang penasehat yang sangat dipercayainya. Sangkin dipercayai, nasihatnya disetarakan dengan nasehat Allah sendiri (2 Sam 16:23). Kesuksesan seorang raja selalu bergantung kepada orang-orang dibalik pemerintahannya itu.
Raja Nero (54 M – 68 M) menjadi raja ketika umur 17 thn, pada dasarnya adalah seorang yang pemalu dan penakut. Namun para penasehatnyalah yang membentuk dia menjadi seorang raja yang bengis. Salah satu nasehat Seneca, “Seorang Kaisar boleh melakukan apa saja, boleh berbohong, curang dan jika terpaksa membunuh …. Berkuasalah bagai dewa”. Bukan hanya penasehatnya yang mengajarinya menjadi makhluk bengis, namun istrinya juga, Poppaea. Dan akhirnya bukan saja orang tuanya yg berakhir di tangannya, istrinya juga. Dan diprediksikan Rasul Petrus disalib terbalik dan Rasul Paulus (kemungkinan 67 M di Efesus) dipenggal oleh Nero. Nero juga melakukan pembantaian terhadap kaum bangsawan dan orang-orang kaya di Senat dan mengambil warisan yang mereka tinggalkan (64 M – 68 M).
Zaman Tuhan Yesus (kira-kira periode 5 SM – 30 M) adalah ketika dipimpin oleh Kaisar Tiberius (14 M – 37 M). Kaisar Tiberius adalah kaisar yang membela rakyat jajahannya. Namun tidak sepemikiran dengan para kaum bangsawan dan Senator, visi kaisar tidak dapat dijalankan. Kaisar bahkan ingin membebaskan rakyat dari pajak (menurut dokumentasi BBC yang ditulis oleh DR. Peter Heater). Mungkin itulah sebabnya orang Farisi dan orang-orang Herodian menanyakan hal yang menjebak Yesus, “apa boleh bayar pajak ke kaisar?” (Mat 22:17). Penjajahan Roma terhadap Judea, membuat orang Farisi ingin mempertahankan keoriginalan mereka dan menekan orang lain.
Teman-teman rekan muda, sebentar lagi pemilu tiba. Kita harus menggunakan hak pilih kita. Contoh-contoh di atas memberikan kita referensi untuk mengurangi kebingungan kita. Tentu saja kita harus berdoa dulu dan minta hikmat Tuhan. Saya berharap, kita tidak dtg ke TPS dengan 'blank' dan berharap tiba2 Tuhan berbicara harus pilih apa. Kita harus mempersiapkan pilihan kita juga. Kita bisa menganalisa dan memperhatikan nasihat orang2 yg dpt kita percayai. (Bukan berarti kita terpaksa ikut memilih pilihan mereka)
Elisa adalah seorang nabi, ketika ia tinggal di rumah perempuan kaya Sunem, ia kagum akan kebaikan perempuan ini, sehingga ia ingin membalas jasa. Elisa minta tolong kepada Gehazi utk cari tau apa yang dibutuhkan perempuan ini. Dalam pikiran saya, bukankah Elisa nabi Tuhan, kenapa ga nanya aja ke Tuhan. Toh nanti Elisa juga memohonkan doa utk perempuan ini. Elisa butuh info dari Gehazi, bujangnya itu. (2 Raj 4:14)
Gunakanlah info yg kita dapat dgn tepat. Sebagai referensi, lihat juga siapa orang yang ada di belakang orang yang kita pilih, karna seringkali ide dari para penasehat lebih sering digunakan.
“Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini”. (Amsal 21:1). “Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia…” (Ezra1:1). “Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga ia menyemarakkan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem,” (Ezra 7:27).
Tuhan dapat mengubahkan hati raja. Hati raja ada di dalam tanganNya. Melalui doa dan permohonan anak-anak Tuhan, pastilah Tuhan mau menggerakkan hati raja. Itulah sebabnya kita harus mendoakan pemerintah kita, sebab tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tanpa rakyat runtuhlah pemerintah (Amsal 14:28). Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah (Roma 13:1). Pemerintah adalah hamba Allah (Roma 1:4). Kita harus tunduk kepada pemerintah (Tit 3:1).
Membaca ayat2 ttg pemerintah di atas, bukan berarti kita hanya "berserah" alias masa bodoh. Tuhan memang bisa menggerakkan hati raja, tetapi karena ada org benar yang memintanya. Ingat, kita harus tunduk kepada pemerintah. So pilihlah sesuai dengan hati nurani.
Berdoalah supaya keadilan bisa ditegakkan di bangsa ini. Berdoalah supaya kita anak2 Tuhan tetap bisa beribadah kepada Tuhan, kendatipun kita tau akan datang masa2 sukar bagi anak-anak Tuhan. Sekiranya itu terjadi, biar doamu menyelamatkan dirimu sendiri spt Abraham. Tuhan Yesus memberkati.
Selamat memilih!!!
Senin, 29 Juni 2009
Kejadianku Dasyat dan Ajaib
Mazmur 139
Mazmur 139 ini adalah mazmur Daud yang paling indah dan sempurna (menurut penelitian Aben Ezra). Daud memuji Tuhan dengan penuh perasaan, memuji betapa hikmat, pengetahuan, kehadiran dan keadilannya Tuhan. Daud mengucapkan mazmur ini ketika dia sedang difitnah dan dicela oleh Simei anak Gera, dari suku Benyamin itu, dari kaum keluarga Saul (2 Sam 16:5). Bukan hanya itu saja anaknya, Absalom juga ingin mencabut nyawanya. Bahkan Ahitofel, orang yang paling dipercayai nasehatnya (sama seperti mempercayai Allah - 2Sam 16:23) menghianati dia (2Sam 17:2). Sambil Simei mengutuki Daud, dia juga melempari Daud dan anak buahnya dengan batu. Namun Daud tidak mau membalasnya, padahal di situ ada para pahlawan gagah perkasa yang menyertai Daud.
Luar biasa Daud bisa memuji Tuhan di saat terdesak oleh segala macam persoalan. Absalom ingin membunuhnya namun Daud menyuruh anak buahnya agar memperlakukan Absalom dengan baik (2 Sam 18:5). Daud hanya berserah kepada Tuhan dan percaya kepada Tuhan, kalau Tuhan tau akan apa yang sedang dihadapi oleh Daud. Daud hanya mengatakan “the magic word” seolah tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk membujuk Tuhan. “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya semuanya telah Kau ketahui, ya Tuhan”.
Ayat 3, "Engkau memeriksa aku", atau dalam terjemahan lain, "Thou compassest my path". Compassest (zarah), berarti menampi, memisahkan, menyaring. Tuhan memeriksa hidup kita itu sedemikian komplit, secara keseluruhan, seperti sedang memisahkan antara gandum dan sekam, ketika sedang ditampi. Tujuan menampi adalah menghasilkan benih yang baik, yang tidak baik harus disingkirkan.
Daud menceritakan kemahatahuan Tuhan dan kemaha-hadiran Tuhan untuk membangun pengharapannya. Daud mengungkapkan, kemahatahuan Tuhan tentang apa yang ada di hatinya, Tuhan ada di setiap tempat. Tuhan tau akan masa lalu kita, dia yang menciptakan kita, dan Tuhan memperhatikan kejadian kita dari awal dan pikiran Tuhan begitu berharga dan tak terhitung. Daud tau bahwa Tuhan membenci kelakuan orang yang berbuat jahat. Karna itulah Daud juga membenci perbuatan orang yang jahat itu. Bukan orangnya, tetapi perbuatannya. Itulah bukti kalau Daud mengasihi Tuhan. Daud juga meminta Tuhan untuk menyelidiki hatinya, dari dosa yang tersembunyi, dosa pikiran, dosa yang tidak diketahuinya.
"Kejadianku dasyat dan ajaib", berarti kita ini diciptakan berbeda dengan yang lainnya. Kita berbeda dalam hal pikiran dan perasaan, sangat berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya. Tuhan memberi perhatian khusus atas kita. Seharusnya kita terkagum-kagum akan hal itu, seperti Daud mengagumi bagaimana Tuhan menciptakan dirinya.
Dalam doanya Daud hanya bisa mengungkapkan syukur dan kekagumannya akan Tuhan di atas segala persoalan hidup yang dialaminya. Daud menguatkan pengharapannya. Daud tau, tidak mungkin Tuhan tidak menolong dia dalam kesukarannya. Dengan penuh kerendahan hati Daud datang kepada Tuhan, memastikan dulu bahwa dia dilayakkan Tuhan. Dan nyatanya Daud tidak meminta pertolongan kepada Tuhan di tengah kesesakannya namun Daud bisa memuji Tuhan. Daud juga meminta Tuhan untuk menyelidiki hatinya. Itulah doa Daud.
Karna kejadian kita dasyat dan ajaib, karna kita sama sekali berbeda pada saat diciptakan, karna Tuhan memperhatikan segala langkah kita, tanpa kita mengucapkan keinginan-keinginan kita kepada Tuhan, Tuhan tau itu dan segera menyediakannya. Doa-doa kita seharusnya lebih banyak berisi pujian dan ucapan syukur saja. Tuhan suka dipuji dan disembah. Di saat sulit juga, kita seharusnya kita memberikan korban pujian dan syukur kepada Tuhan.
Daud tau bagaimana cara menyenangkan hati Tuhan, sehingga Tuhan menolong Daud dari segala kesukaran. Absalom yang mau membunuhnya berakhir dengan tragis. Ahitofel juga bunuh diri. Simei juga minta ampun kepada Daud. Senangkanlah Tuhan, maka Tuhan akan bertindak atas dirimu.
Mazmur 139 ini adalah mazmur Daud yang paling indah dan sempurna (menurut penelitian Aben Ezra). Daud memuji Tuhan dengan penuh perasaan, memuji betapa hikmat, pengetahuan, kehadiran dan keadilannya Tuhan. Daud mengucapkan mazmur ini ketika dia sedang difitnah dan dicela oleh Simei anak Gera, dari suku Benyamin itu, dari kaum keluarga Saul (2 Sam 16:5). Bukan hanya itu saja anaknya, Absalom juga ingin mencabut nyawanya. Bahkan Ahitofel, orang yang paling dipercayai nasehatnya (sama seperti mempercayai Allah - 2Sam 16:23) menghianati dia (2Sam 17:2). Sambil Simei mengutuki Daud, dia juga melempari Daud dan anak buahnya dengan batu. Namun Daud tidak mau membalasnya, padahal di situ ada para pahlawan gagah perkasa yang menyertai Daud.
Luar biasa Daud bisa memuji Tuhan di saat terdesak oleh segala macam persoalan. Absalom ingin membunuhnya namun Daud menyuruh anak buahnya agar memperlakukan Absalom dengan baik (2 Sam 18:5). Daud hanya berserah kepada Tuhan dan percaya kepada Tuhan, kalau Tuhan tau akan apa yang sedang dihadapi oleh Daud. Daud hanya mengatakan “the magic word” seolah tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk membujuk Tuhan. “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya semuanya telah Kau ketahui, ya Tuhan”.
Ayat 3, "Engkau memeriksa aku", atau dalam terjemahan lain, "Thou compassest my path". Compassest (zarah), berarti menampi, memisahkan, menyaring. Tuhan memeriksa hidup kita itu sedemikian komplit, secara keseluruhan, seperti sedang memisahkan antara gandum dan sekam, ketika sedang ditampi. Tujuan menampi adalah menghasilkan benih yang baik, yang tidak baik harus disingkirkan.
Daud menceritakan kemahatahuan Tuhan dan kemaha-hadiran Tuhan untuk membangun pengharapannya. Daud mengungkapkan, kemahatahuan Tuhan tentang apa yang ada di hatinya, Tuhan ada di setiap tempat. Tuhan tau akan masa lalu kita, dia yang menciptakan kita, dan Tuhan memperhatikan kejadian kita dari awal dan pikiran Tuhan begitu berharga dan tak terhitung. Daud tau bahwa Tuhan membenci kelakuan orang yang berbuat jahat. Karna itulah Daud juga membenci perbuatan orang yang jahat itu. Bukan orangnya, tetapi perbuatannya. Itulah bukti kalau Daud mengasihi Tuhan. Daud juga meminta Tuhan untuk menyelidiki hatinya, dari dosa yang tersembunyi, dosa pikiran, dosa yang tidak diketahuinya.
"Kejadianku dasyat dan ajaib", berarti kita ini diciptakan berbeda dengan yang lainnya. Kita berbeda dalam hal pikiran dan perasaan, sangat berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya. Tuhan memberi perhatian khusus atas kita. Seharusnya kita terkagum-kagum akan hal itu, seperti Daud mengagumi bagaimana Tuhan menciptakan dirinya.
Dalam doanya Daud hanya bisa mengungkapkan syukur dan kekagumannya akan Tuhan di atas segala persoalan hidup yang dialaminya. Daud menguatkan pengharapannya. Daud tau, tidak mungkin Tuhan tidak menolong dia dalam kesukarannya. Dengan penuh kerendahan hati Daud datang kepada Tuhan, memastikan dulu bahwa dia dilayakkan Tuhan. Dan nyatanya Daud tidak meminta pertolongan kepada Tuhan di tengah kesesakannya namun Daud bisa memuji Tuhan. Daud juga meminta Tuhan untuk menyelidiki hatinya. Itulah doa Daud.
Karna kejadian kita dasyat dan ajaib, karna kita sama sekali berbeda pada saat diciptakan, karna Tuhan memperhatikan segala langkah kita, tanpa kita mengucapkan keinginan-keinginan kita kepada Tuhan, Tuhan tau itu dan segera menyediakannya. Doa-doa kita seharusnya lebih banyak berisi pujian dan ucapan syukur saja. Tuhan suka dipuji dan disembah. Di saat sulit juga, kita seharusnya kita memberikan korban pujian dan syukur kepada Tuhan.
Daud tau bagaimana cara menyenangkan hati Tuhan, sehingga Tuhan menolong Daud dari segala kesukaran. Absalom yang mau membunuhnya berakhir dengan tragis. Ahitofel juga bunuh diri. Simei juga minta ampun kepada Daud. Senangkanlah Tuhan, maka Tuhan akan bertindak atas dirimu.
Retreat REMBARTO
Kemarin Tanggal 27-28 Juni 2009, REMBARTO (Remaja GPdI Barito) mengadakan retreat di Cipanas, Villa Lotus, bertema “Kejadianku Dasyat dan Ajaib”. Semua peserta yang hadir dilawat Tuhan dan dipulihkan. Di hari kedua, waktu sesi kesaksian, beberapa anak maju ke depan dan menyaksikan ketika mereka dilawat oleh Roh Kudus, sehingga mereka tidak tahan untuk menahan tangis. Ada beberapa yang langsung rekonsiliasi di tempat. Ada yang berjanji akan menemui ayah mereka dan mengasihi ayah mereka apa adanya. Luar biasa ketika kita bisa mengungkapkan masa lalu kita yang kelam, dan meminta maaf akan kesalahan kita.
Ada anak yang merasa kecewa akan hidup. Sejak kecil sudah hidup tanpa orang tua. Sepertinya ayah ibunya sengaja dipisahkan oleh keluarga. Sang anak hanya diberitahu kalau ayahnya sudah meninggal. Ibunya juga meninggalkan mereka, sehingga sisa keluarga yang tertinggal, kakak beradik harus tinggal dip anti asuhan. Seorang anak laki-laki, tumbuh dengan kekerasan dan merasa mengapa semua orang yang dikasihinya selalu meninggalkannya. Dia masih mempunyai dua adik perempuan dan seorang kakak. Sang kakak sudah bekerja. Anak laki-laki 17an tahun ini harus menjaga kedua adik perempuannya ini. Tetapi dia tidak pernah tau bagaimana seharusnya menjadi imam di keluarga, dia kehilangan figure ayah. Di panti hanya ada ibu panti, tidak ada figure ayah.
Setiap hari anak ini berlaku kasar terhadap adik-adiknya itu, berlaku seenaknya, walaupun beberapa kali ibu panti sudah mengingatkannya, namun dia merasa itu bukan urusan ibu panti, itu urusan pribadinya. Sampai saatnya dia harus berhadapan langsung dengan Tuhan, Roh Kudus yang lemah lembut menjamah hatinya. Anak laki-laki ini sadar akan perbuatannya, dia minta ampun kepada Tuhan. Dan pada saat sesi kesaksian, dia maju ke depan dan mengakui perbuatannya itu dan berjanji akan berubah. Di saksikan oleh semua peserta dan tentu saja Roh Kudus hadir di situ, anak laki-laki ini minta maaf kepada adik-adiknya (mereka bertiga hadir di retreat), mereka berangkulan, air mata pun mengalir, pengampunan juga mengalir. Salah satu adiknya sangat terluka, hampir saja tidak sanggup untuk mengampuni, tetapi mereka juga tidak kuasa akan desakan Roh Kudus, sehingga rekonsiliasi terjadi, iblis dikalahkan, Nama Yesus Kristus Tuhan dimuliakan.
Ada juga seorang anak laki-laki yang sangat terluka akan perkataan kakaknya, padahal kejadiannya sudah sangat lama, ketika masih SD, perkataan “kamu bodoh..!!” itu masih terbayang-bayang terus. Sampai saat sesi HATI BAPA, dia harus mengampuni kakaknya. Saat sesi kesaksian, disaksikan oleh semua peserta, MC memanggil kakak anak itu, sehingga mereka berdua harus rekonsiliasi. Sang kakak juga langsung minta maaf, “Maafin Mas yang ga bisa memberi contoh yang baik buat kamu, kamu punya potensi luar biasa, kamu itu pintar….”. Mereka pun saling berangkulan, pengampunan terjadi.
Salah satu sesi, salah satu pembicara juga menceritakan sisi kelam hidupnya. Dia pernah terlibat dengan drugs tetapi akhirnya dengan kasih karunia Kristus Tuhan dia diselamatkan. Perlakuan kejam sang ayah membuat dia tumbuh nakal. Sang ayah suka memukul dan mengatakan, “kamu anak haram!”. Ternyata dikemudian hari ayahnya mengakui, kalau sang ayah ini tidak pernah mendapatkan figure ayah, sehingga tidak tau bagaimana cara mendidik anaknya, sehingga dia sering memukuli anaknya. Ayah ini bercerita kalau ketika kecil dia ditinggalin oleh ayah kandungnya, dia harus tinggal dengan ayah angkat yang satu ke ayah angkat yang lain. Dan setiap ayah angkat selalu berlaku kasar terhadapnya dan dia sering dipukuli oleh ayah angkatnya, pernah diikat dipinggir pantai oleh ayah angkatnya. Demikianlah sang ayah dari salah satu pembicara ini tumbuh sehingga sampai usia 60 tahun sering berlaku kejam terhadap anak laki-lakinya juga. Sampai saatnya dia harus Roh Kudus menjamahnya dan memulihkan hidupnya. Cerita ini juga menginspirasi peserta, karena kisahnya mirip dengan kisah salah satu peserta.
Sesi belum berakhir, Sesi CELEBRATION, mereka bernyanyi girang, melompat dan bersorak bagi Kristus, sangat berbeda dengan sesi OPENING saat mereka belum mendengar FirTu. Hmmm…. Roh Kudus hadir dan bermanifestasi dengan dasyat, semua peserta dilawat Tuhan. Di akhir sesi juga, panitia juga didoakan, mereka yang telah berlelah menyelenggarakan acara, mungkin ada satu dua masalah, mereka pun saling membereskan masalah. Di akhiri juga dengan saling mendoakan berdua-dua. Ada anak yang ketika berdoa berdua-dua, rebah. Mereka yang kakak beradik saling berangkulan. Luar biasa Tuhan Yesus Kristus. Makasih Tuhan Yesus, Engkau luar biasa!!
Saat kita langsung berhadapan dengan Tuhan, atau dengan kata lain ketika Roh Kudus melawat kita, banyak sekali hal-hal yang buruk dari hidup kita diunggkapkan. Kadang-kadang seperti diputerin film masa lalu kita. Semua itu hanya untuk memurnikan hidup kita. Seorang manusia sering terperangkap oleh masa lalu yang kelam. Hidup jadi ga bebas, sikap hidup juga jadi buruk, dan bisa memproduksi orang yang berkelakuan sama buruknya juga, sehingga bukannya menyinari dunia tetapi menambah kegelapan dunia. So… marilah kita lebih sering menghampiri tahta kasih karunia itu supaya ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan, kita ga bisa kabur lagi, kita bisa dikoreksi oleh Roh Kudus dan kita bisa memperperbaiki kesalahan kita itu. Hidup kita dipulihkan dan dibebaskan. Freedom adalah pilihan.
***
Suatu hari saya mendengar cerita tentang “monyet afrika”. Di Afrika, orang-orang yang mau menangkap monyet, membuat suatu perangkap monyet yang didisain sedemikian. Pintu perangkap dibuat kecil saja, hanya tangan monyet aja yang bisa masuk, di dalamnya ditaruh umpan pisang. Kalau monyet sudah tergiur dengan umpannya langsung saja dia memasukkan tangannya ke perangkap. Monyet akan menggenggam erat pisang dan terjerat. “Hmmm… pasti kita langsung berpikir, kenapa ga dilepas aja pisangnya, kan dia bisa terlepas oleh jerat”. Hahaha… karna dia monyet bukan kita.
Tapiii…. Uuuppsszzz…., manusia juga sering gitu juga koq. Kita sadar kalau kita melepaskan masa lalu kelam kita, kita pasti terbebas. Tapi banyak lohh… yang ga sudi melepaskan pengampunan. Banyak lohhh…. yang masih saja banyak orang yang menyalahkan orang lain melulu, akibat masih mengingat dan tidak mengampuni. Peristiwa-peristiwa kecil yang menyakitkan, yang kita simpen-simpen terus bisa mengakibatkan hal buruk, dan bisa buat orang tersebut jadi berbuat dosa, seperti menyakiti orang lain. Kita ga bisa bilang, “aku ga kan berlaku jahat seperti itu”, sebelum kita mengampuni orang yang berlaku jahat terhadap kita, pastinya nanti kitanya yang bisa berlaku lebih jahat dari yang dilakukan orang itu.
***
Kira-kira sebulan lalu ketika saya mempersiapkan diri untuk retreat ini, saya sedang mempersiapkan lagu untuk retreat, saya mendapatkan suatu kebenaran, ‘jika kita mau mendapatkan freedom, kita harus melepaskan masa lalu kita’. Persoalannya gini…. Saya kadang-kadang, ketika sedang mengoreksi diri, saya sering menyalahkan ortu akan kegagalan saya sekarang. Saya tau kalau, Kita yang sekarang adalah produk dari apa yang kita kerjakan di masa lalu dan kita di masa depan adalah produk kita yang sekarang ini. Sebenernya, saya tidak gagal secara keseluruhan, hanya masih dalam “ a journey of life”.
Memang di masa kecil kita, kadang kita ga bisa memilih, semua pilihan ada di tangan ortu. Hmmm… mungkin para ortu seharusnya berpikir kalau anak-anak juga memiliki kehendak (sama seperti mereka… sama selayaknya seperti manusia pada umumnya… diciptakan segambar dengan Allah yang memiliki kehendak), pada usia tertentu sebaiknya anak-anak dibiarkan memilih apa yang mereka inginkan. Ortu hanya menyupport anak-anak agar bertanggung jawab akan pilihan mereka. Hehe… itu pendapat pribadi saya saja. Back to my story…
Well, saat itu langsung saja saya bertobat akan hal ‘kecil’ itu. Saya ingin bebas berpikir, bebas mengambil pilihan dan bebas bertindak tanpa paksaan orang lain. Melakukan pilihan excellently dan bertanggung jawab tentunya. Hasilnya… saya bebas, tidak lagi menyalahkan orang lain, bisa lebih banyak berkarya dan menambah topic bagus untuk artikel-artikel saya tentunya. Hahaha….
Kira-kira seminggu lalu saya mendengar cerita tentang “monyet afrika”, hmmm… saya merasa diteguhkan untuk bisa menyampaikannya untuk orang lain juga.
***
Hal mengampuni orang lain, tidak terbatas oleh apakah seseorang itu sudah lahir baru atau belum, pendeta atau jemaat, guru besar ataupun orang pandir. Masa lalu kita itu sudah membentuk hidup kita. Kadang-kadang ada satu dua hal ‘masalah’ di hidup kita yang sangat mengesalkan kita. Kalau ‘masalah’ itu mencuat tiba-tiba, maksudnya timbul dipikiran kita tiba-tiba dan membuat kita jadi kesal lagi, berarti hal itu bener-bener masalah tuh, dan harus diselesaikan. Biasanya masalah itu karena perbuatan orang lain terhadap kita, so kita harus mengampuni orang itu. Kalau kita kesal terhadap diri sendiri, ya kita harus mengampuni diri sendiri.
Hal mengampuni itu, seperti mengupas suing-siung bawang merah. Setiap kali kita berhadapan dengan orang, yang bisa saja menyakiti kita, namun kita harus selalu berdamai dengan semua orang. Alkitab mengatakan, “besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesama”. Memang kita ga bisa terlepas dengan permasalahan. Sering menyebutnya “cobaan dari Tuhan”. Saya rasa ga pernah Tuhan mencobai kita, hanya saja kita sendiri yang terkontaminasi sehingga akrab dengan dosa, ga sadar klo kita sudah terjebur dalam lumpur dosa, dan makin jauh dari Tuhan.
Bisa juga suing-siung itu adalah produk masa lalu kita yang disakiti ortu. Our heart is so fragile. So we must keep save our heart. Dan hal-hal masa lalu harus dibereskan, agar tidak mengganggu hidup masa sekarang dan masa depan. Bukan dengan cara menengking iblis yang di dalam manusia itu, sebab iblis sudah kabur ketika manusia itu menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Namun melepaskan pengampunan adalah hak bebas seseorang. Jika seseorang itu berani mengampuni orang yang telah merugikan dirinya, maka dia pastinya tidak terbelenggu secara psikis (jiwani).
Dalam dunia nyata ini kita sudah melihat beberapa tingkah laku anak yang ditolak oleh orangtuanya. Misalnya saja ditolak sejak dalam kandungan, sang anak seolah bisa tau dan bisa bermusuhan dengan ibunya. Seorang anak yang sering dipukul oleh ayahnya, akan menjadi ayah yang suka memukuli anaknya juga.
Tuhan Yesus yang akan membantu kita melepaskan diri secara roh dan jiwa. Tubuh fisik adalah adalah akibat yang bisa terlihat langsung. Misalnya anak yang akan digugurkan tetapi akhirnya lahir juga namun bisa cacat. Semuanya itu tergantung kepada manusia itu, mau dilepaskan oleh Tuhan Yesus atau ngga. Manusia yang harus memilih dan bertindak, menerima pengampunan Kristus dan bertindak mengampuni orang lain juga, kemudian melupakan perlakuan buruk yang telah dikenai kepadanya.
Menerima pengampunan Kristus berarti terlepas secara roh dengan iblis, hutang gadai dibayar. Mengampuni orang lain akan membebaskan kita secara jiwani. Namun semuanya tergantung kepada kita sendiri, pilihan ada di tangan kita sendiri.
***
Tema retreat REMBARTO adalah “Kejadianku dasyat dan Ajaib”. Di awali oleh sesi KESELAMATAN, kemudian HATI BAPA dan GAMBAR DIRI. Intinya adalah betapa berharganya diri kita karna sudah ditebus oleh darah Kristus. Dan kita juga harus mengampuni orang lain yang merugikan kita seperti Kristus mengampuni. (R'Tom)
Ada anak yang merasa kecewa akan hidup. Sejak kecil sudah hidup tanpa orang tua. Sepertinya ayah ibunya sengaja dipisahkan oleh keluarga. Sang anak hanya diberitahu kalau ayahnya sudah meninggal. Ibunya juga meninggalkan mereka, sehingga sisa keluarga yang tertinggal, kakak beradik harus tinggal dip anti asuhan. Seorang anak laki-laki, tumbuh dengan kekerasan dan merasa mengapa semua orang yang dikasihinya selalu meninggalkannya. Dia masih mempunyai dua adik perempuan dan seorang kakak. Sang kakak sudah bekerja. Anak laki-laki 17an tahun ini harus menjaga kedua adik perempuannya ini. Tetapi dia tidak pernah tau bagaimana seharusnya menjadi imam di keluarga, dia kehilangan figure ayah. Di panti hanya ada ibu panti, tidak ada figure ayah.
Setiap hari anak ini berlaku kasar terhadap adik-adiknya itu, berlaku seenaknya, walaupun beberapa kali ibu panti sudah mengingatkannya, namun dia merasa itu bukan urusan ibu panti, itu urusan pribadinya. Sampai saatnya dia harus berhadapan langsung dengan Tuhan, Roh Kudus yang lemah lembut menjamah hatinya. Anak laki-laki ini sadar akan perbuatannya, dia minta ampun kepada Tuhan. Dan pada saat sesi kesaksian, dia maju ke depan dan mengakui perbuatannya itu dan berjanji akan berubah. Di saksikan oleh semua peserta dan tentu saja Roh Kudus hadir di situ, anak laki-laki ini minta maaf kepada adik-adiknya (mereka bertiga hadir di retreat), mereka berangkulan, air mata pun mengalir, pengampunan juga mengalir. Salah satu adiknya sangat terluka, hampir saja tidak sanggup untuk mengampuni, tetapi mereka juga tidak kuasa akan desakan Roh Kudus, sehingga rekonsiliasi terjadi, iblis dikalahkan, Nama Yesus Kristus Tuhan dimuliakan.
Ada juga seorang anak laki-laki yang sangat terluka akan perkataan kakaknya, padahal kejadiannya sudah sangat lama, ketika masih SD, perkataan “kamu bodoh..!!” itu masih terbayang-bayang terus. Sampai saat sesi HATI BAPA, dia harus mengampuni kakaknya. Saat sesi kesaksian, disaksikan oleh semua peserta, MC memanggil kakak anak itu, sehingga mereka berdua harus rekonsiliasi. Sang kakak juga langsung minta maaf, “Maafin Mas yang ga bisa memberi contoh yang baik buat kamu, kamu punya potensi luar biasa, kamu itu pintar….”. Mereka pun saling berangkulan, pengampunan terjadi.
Salah satu sesi, salah satu pembicara juga menceritakan sisi kelam hidupnya. Dia pernah terlibat dengan drugs tetapi akhirnya dengan kasih karunia Kristus Tuhan dia diselamatkan. Perlakuan kejam sang ayah membuat dia tumbuh nakal. Sang ayah suka memukul dan mengatakan, “kamu anak haram!”. Ternyata dikemudian hari ayahnya mengakui, kalau sang ayah ini tidak pernah mendapatkan figure ayah, sehingga tidak tau bagaimana cara mendidik anaknya, sehingga dia sering memukuli anaknya. Ayah ini bercerita kalau ketika kecil dia ditinggalin oleh ayah kandungnya, dia harus tinggal dengan ayah angkat yang satu ke ayah angkat yang lain. Dan setiap ayah angkat selalu berlaku kasar terhadapnya dan dia sering dipukuli oleh ayah angkatnya, pernah diikat dipinggir pantai oleh ayah angkatnya. Demikianlah sang ayah dari salah satu pembicara ini tumbuh sehingga sampai usia 60 tahun sering berlaku kejam terhadap anak laki-lakinya juga. Sampai saatnya dia harus Roh Kudus menjamahnya dan memulihkan hidupnya. Cerita ini juga menginspirasi peserta, karena kisahnya mirip dengan kisah salah satu peserta.
Sesi belum berakhir, Sesi CELEBRATION, mereka bernyanyi girang, melompat dan bersorak bagi Kristus, sangat berbeda dengan sesi OPENING saat mereka belum mendengar FirTu. Hmmm…. Roh Kudus hadir dan bermanifestasi dengan dasyat, semua peserta dilawat Tuhan. Di akhir sesi juga, panitia juga didoakan, mereka yang telah berlelah menyelenggarakan acara, mungkin ada satu dua masalah, mereka pun saling membereskan masalah. Di akhiri juga dengan saling mendoakan berdua-dua. Ada anak yang ketika berdoa berdua-dua, rebah. Mereka yang kakak beradik saling berangkulan. Luar biasa Tuhan Yesus Kristus. Makasih Tuhan Yesus, Engkau luar biasa!!
Saat kita langsung berhadapan dengan Tuhan, atau dengan kata lain ketika Roh Kudus melawat kita, banyak sekali hal-hal yang buruk dari hidup kita diunggkapkan. Kadang-kadang seperti diputerin film masa lalu kita. Semua itu hanya untuk memurnikan hidup kita. Seorang manusia sering terperangkap oleh masa lalu yang kelam. Hidup jadi ga bebas, sikap hidup juga jadi buruk, dan bisa memproduksi orang yang berkelakuan sama buruknya juga, sehingga bukannya menyinari dunia tetapi menambah kegelapan dunia. So… marilah kita lebih sering menghampiri tahta kasih karunia itu supaya ketika kita berhadapan langsung dengan Tuhan, kita ga bisa kabur lagi, kita bisa dikoreksi oleh Roh Kudus dan kita bisa memperperbaiki kesalahan kita itu. Hidup kita dipulihkan dan dibebaskan. Freedom adalah pilihan.
***
Suatu hari saya mendengar cerita tentang “monyet afrika”. Di Afrika, orang-orang yang mau menangkap monyet, membuat suatu perangkap monyet yang didisain sedemikian. Pintu perangkap dibuat kecil saja, hanya tangan monyet aja yang bisa masuk, di dalamnya ditaruh umpan pisang. Kalau monyet sudah tergiur dengan umpannya langsung saja dia memasukkan tangannya ke perangkap. Monyet akan menggenggam erat pisang dan terjerat. “Hmmm… pasti kita langsung berpikir, kenapa ga dilepas aja pisangnya, kan dia bisa terlepas oleh jerat”. Hahaha… karna dia monyet bukan kita.
Tapiii…. Uuuppsszzz…., manusia juga sering gitu juga koq. Kita sadar kalau kita melepaskan masa lalu kelam kita, kita pasti terbebas. Tapi banyak lohh… yang ga sudi melepaskan pengampunan. Banyak lohhh…. yang masih saja banyak orang yang menyalahkan orang lain melulu, akibat masih mengingat dan tidak mengampuni. Peristiwa-peristiwa kecil yang menyakitkan, yang kita simpen-simpen terus bisa mengakibatkan hal buruk, dan bisa buat orang tersebut jadi berbuat dosa, seperti menyakiti orang lain. Kita ga bisa bilang, “aku ga kan berlaku jahat seperti itu”, sebelum kita mengampuni orang yang berlaku jahat terhadap kita, pastinya nanti kitanya yang bisa berlaku lebih jahat dari yang dilakukan orang itu.
***
Kira-kira sebulan lalu ketika saya mempersiapkan diri untuk retreat ini, saya sedang mempersiapkan lagu untuk retreat, saya mendapatkan suatu kebenaran, ‘jika kita mau mendapatkan freedom, kita harus melepaskan masa lalu kita’. Persoalannya gini…. Saya kadang-kadang, ketika sedang mengoreksi diri, saya sering menyalahkan ortu akan kegagalan saya sekarang. Saya tau kalau, Kita yang sekarang adalah produk dari apa yang kita kerjakan di masa lalu dan kita di masa depan adalah produk kita yang sekarang ini. Sebenernya, saya tidak gagal secara keseluruhan, hanya masih dalam “ a journey of life”.
Memang di masa kecil kita, kadang kita ga bisa memilih, semua pilihan ada di tangan ortu. Hmmm… mungkin para ortu seharusnya berpikir kalau anak-anak juga memiliki kehendak (sama seperti mereka… sama selayaknya seperti manusia pada umumnya… diciptakan segambar dengan Allah yang memiliki kehendak), pada usia tertentu sebaiknya anak-anak dibiarkan memilih apa yang mereka inginkan. Ortu hanya menyupport anak-anak agar bertanggung jawab akan pilihan mereka. Hehe… itu pendapat pribadi saya saja. Back to my story…
Well, saat itu langsung saja saya bertobat akan hal ‘kecil’ itu. Saya ingin bebas berpikir, bebas mengambil pilihan dan bebas bertindak tanpa paksaan orang lain. Melakukan pilihan excellently dan bertanggung jawab tentunya. Hasilnya… saya bebas, tidak lagi menyalahkan orang lain, bisa lebih banyak berkarya dan menambah topic bagus untuk artikel-artikel saya tentunya. Hahaha….
Kira-kira seminggu lalu saya mendengar cerita tentang “monyet afrika”, hmmm… saya merasa diteguhkan untuk bisa menyampaikannya untuk orang lain juga.
***
Hal mengampuni orang lain, tidak terbatas oleh apakah seseorang itu sudah lahir baru atau belum, pendeta atau jemaat, guru besar ataupun orang pandir. Masa lalu kita itu sudah membentuk hidup kita. Kadang-kadang ada satu dua hal ‘masalah’ di hidup kita yang sangat mengesalkan kita. Kalau ‘masalah’ itu mencuat tiba-tiba, maksudnya timbul dipikiran kita tiba-tiba dan membuat kita jadi kesal lagi, berarti hal itu bener-bener masalah tuh, dan harus diselesaikan. Biasanya masalah itu karena perbuatan orang lain terhadap kita, so kita harus mengampuni orang itu. Kalau kita kesal terhadap diri sendiri, ya kita harus mengampuni diri sendiri.
Hal mengampuni itu, seperti mengupas suing-siung bawang merah. Setiap kali kita berhadapan dengan orang, yang bisa saja menyakiti kita, namun kita harus selalu berdamai dengan semua orang. Alkitab mengatakan, “besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesama”. Memang kita ga bisa terlepas dengan permasalahan. Sering menyebutnya “cobaan dari Tuhan”. Saya rasa ga pernah Tuhan mencobai kita, hanya saja kita sendiri yang terkontaminasi sehingga akrab dengan dosa, ga sadar klo kita sudah terjebur dalam lumpur dosa, dan makin jauh dari Tuhan.
Bisa juga suing-siung itu adalah produk masa lalu kita yang disakiti ortu. Our heart is so fragile. So we must keep save our heart. Dan hal-hal masa lalu harus dibereskan, agar tidak mengganggu hidup masa sekarang dan masa depan. Bukan dengan cara menengking iblis yang di dalam manusia itu, sebab iblis sudah kabur ketika manusia itu menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Namun melepaskan pengampunan adalah hak bebas seseorang. Jika seseorang itu berani mengampuni orang yang telah merugikan dirinya, maka dia pastinya tidak terbelenggu secara psikis (jiwani).
Dalam dunia nyata ini kita sudah melihat beberapa tingkah laku anak yang ditolak oleh orangtuanya. Misalnya saja ditolak sejak dalam kandungan, sang anak seolah bisa tau dan bisa bermusuhan dengan ibunya. Seorang anak yang sering dipukul oleh ayahnya, akan menjadi ayah yang suka memukuli anaknya juga.
Tuhan Yesus yang akan membantu kita melepaskan diri secara roh dan jiwa. Tubuh fisik adalah adalah akibat yang bisa terlihat langsung. Misalnya anak yang akan digugurkan tetapi akhirnya lahir juga namun bisa cacat. Semuanya itu tergantung kepada manusia itu, mau dilepaskan oleh Tuhan Yesus atau ngga. Manusia yang harus memilih dan bertindak, menerima pengampunan Kristus dan bertindak mengampuni orang lain juga, kemudian melupakan perlakuan buruk yang telah dikenai kepadanya.
Menerima pengampunan Kristus berarti terlepas secara roh dengan iblis, hutang gadai dibayar. Mengampuni orang lain akan membebaskan kita secara jiwani. Namun semuanya tergantung kepada kita sendiri, pilihan ada di tangan kita sendiri.
***
Tema retreat REMBARTO adalah “Kejadianku dasyat dan Ajaib”. Di awali oleh sesi KESELAMATAN, kemudian HATI BAPA dan GAMBAR DIRI. Intinya adalah betapa berharganya diri kita karna sudah ditebus oleh darah Kristus. Dan kita juga harus mengampuni orang lain yang merugikan kita seperti Kristus mengampuni. (R'Tom)
Sabtu, 13 Juni 2009
Life in Freedom
Apakah hidup dalam kebebasan itu? Apakah kita masih berpikir hidup bebas berarti dapat melakukan apapun juga? Atau dapat terbang bebas seperti burung? Uppss… klo kita masih berpikir demikian, wew… maafkan saya jika harus berterus terang, it’s a childish, right?
Freedom adalah kebebasan, berarti kita memiliki tanggung jawab yang baru. Banyak orang menantikan suatu kebebasan, tetapi ketika kebebasan itu datang, o..oow. Seberapa banyak orang yang malah bersyukur mendapatkan kebebasan. Reaksi umum saat menerima kebebasan adalah kaget akan perubahan.
Mari kita membayangkan…, bagaimana perasaan orang Israel ketika mereka baru saja masuk ke tanah perjanjian. Hmmm… Kita tau bersama, itulah kebebasan yang sebenarnya untuk mereka. Mereka terbebas dari penjajahan, mereka sudah dapat menentukan hidup sendiri, bahkan menu makanan yang baru. Selama ini kan menu makanan mereka adalah manna. (Mungkin…. manna rebus, manna tumis, manna goreng, manna cah gagak…). Tiba-tiba, mereka harus menerima kenyataan…. Sejak mereka masuk ke tanah perjanjian, tidak ada lagi manna (Yosua 5:12). Mereka harus bekerja, bercocok tanam. Mereka harus mulai menabur, menunggu dan menuai.
Bayangkan saja mereka yang lahir di padang gurun, mereka sudah terbiasa tidak perlu menabur dan menuai apalagi menunggu. Bayangkan lagi 40 tahun ga kerja, sekarang… harus kerja. OMG! Saatnya mereka mulai belajar mengelola kebebasan yang sebenarnya itu. Bisa juga dibayangkan seorang anak remaja yang merasa risih tinggal di rumah ortu sendiri karena harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh ayahnya. Mereka pasti ingin bebas, punya rumah sendiri, bisa melakukan apa saja. Hmm… pasti sudah terbayang kelakuan si anak terhilang. (Luk 15:11-32)
Si anak bungsu ingin bebas, menerima harta, menjualnya dan berfoya-foya. Wew… si bungsu tidak mengelola kebebasannya, apa yang didapatnya? Kemelaratan. Sampai akhirnya dia sadar dia perlu kembali ke payung otoritas sang ayah. Alkitab tidak menjelaskan seberapa lama dia hidup melarat, tetapi kita tau kemelaratannya akibat dari tidak bisa mengelola kebebasan.
Ketika manusia diciptakan, Tuhan sudah menyediakan semuanya untuk manusia, bahkan Tuhan memberikan kebebasan untuk mengelola. Tanah sudah menanti manusia untuk dikelola (Kej 2:5 – belum ada yang mengusahakan tanah itu). Tuhan tidak membuat robot, atau sebuah program yang bisa menyembahNya kapan saja. Justru Tuhan memberikan kuasa (dominion = memimpin, mengontrol, menjaga, menjadi pengurus/ steward), seolah-olah Tuhan mau berbagi kuasa dengan manusia, supaya manusia punya visi yang sama dengan Tuhan. (Kej 1:26).
Tuhan Yesus juga menawarkan suatu kebebasan kepada orang Yahudi di Mat 11:28-30. Kebiasaan orang Yahudi adalah melakukan segala hukum dan tradisi nenek moyang (Kis 15:10) tanpa cacat cela, contohnya adalah Petrus (Kis 10:14). Tuhan Yesus berkata, “Apakah kamu capek, lelah dengan peraturan agama. Datanglah padaku, Aku akan tunjukkan bagaimana caranya beristirahat yang benar-benar istirahat. Yuk.. jalan bersamaKu, kamu kerja buat Aku saja. Pertama… kamu lihat Aku dulu bagaimana Aku melakukan pekerjaannya, setelah itu baru kamu yang melakukannya. Kamu bisa belajar dariKu. Aku ga akan memberikan seuatu/ perkerjaan yang memberatkanmu dan menyakitimu, harus yang cocok denganmu. Tetaplah bersamaKu supaya kamu belajar hidup dengan bebas dan enteng”.
Kebebasan yang Yesus beri adalah kebebasan bersyarat, yaitu “pikullah kuk (yoke)…”, yang berarti adalah tanggung jawab yang baru, cara yang baru. Kuk yang lama adalah kuk perhambaan dari tuan yang lama yaitu hukum keagamaan dan tradisi. Yesus menawarkan sesuatu yang berbeda, kuk tidak berat dan yang pasti yang cocok dengan masing-masing pribadi, yang dimana tuannya adalah Yesus sendiri. Syarat untuk bebas dari ‘tuan’ atau ‘kuk perhambaan’ yang lama adalah tinggalkan kuk itu dan datang kepada Yesus, kenakan/ pakai kuk yang Yesus berikan. Tetapi kita tetap memakai kuk, yaitu tanggung jawab. Kita harus bertanggung jawab atas keselamatan/ kebebasan yang telah Yesus berikan.
Bebas itu berarti menerima tanggung jawab baru. Bangsa Israel terbebas dari penjara Mesir, mereka harus menerima tanggung jawab baru mengusahakan tanah perjanjian itu. Anak yang bungsu ketika bebas dari ‘tahanan rumah’ menerima harta, seharusnya mengelola harta yang diterimanya itu. Manusia diberi kebebasan makan apa saja di Taman Eden, asal jangan buah pengetahuan. Berarti kebebasan itu selalu ada syaratnya supaya berhasil.
"Are you tired? Worn out? Burned out on religion? Come to me. Get away with me and you'll recover your life. I'll show you how to take a real rest. Walk with me and work with me—watch how I do it. Learn the unforced rhythms of grace. I won't lay anything heavy or ill-fitting on you. Keep company with me and you'll learn to live freely and lightly." (Mat 11:28-30 terjemahan The Message).
Sering kita merasa lelah dan letih dalam melayani Tuhan. Kadang-kadang kita sudah terperangkap dalam keagamawian, program gereja yang tadinya memang bertujuan baik, namun lama-kelamaan sudah dijadikan ritual yang ternyata eh ternyata Tuhan sudah tidak berkenan akan apa yang kita lakukan, alias Tuhan tidak ada di situ lagi. How terrible? Kita tidak lagi melayani Tuhan, tetapi hanya melayani pekerjaan Tuhan.
Suatu kali teman saya menasehati saya dan mengingatkatkan saya, “ Melayani Tuhan adalah saat kita membangun mezbah pribadi kita, saat kita di gereja atau dalam suatu pelayanan, kita sedang melayani manusia (melayani pekerjaan Tuhan)”. Saat kita membangun mezbah pribadi, persekutuan pribadi, hanya antara diri kita sendiri dan Tuhan, di saat itulah kita bisa tau bagaimana seharusnya kita melayani Bapa kita itu. Apa maunya Bapa, perlakuan seperti apa yang diinginkanNya.
Saat seperti itulah kita dapat curhat bebas, bahkan hanya untuk berkata, “Bapa aku capek, aku dah lakukan semua… apa lagi Bapa? Hahh…”. Inget perkataan Yesus, “Watch how I do it”. Ketika kita berkata, “Tuhan.. aku ga bisa!”. Tuhan ga bakal membuang kita, bahkan Dia bilang, “Lihat Aku, Aku kasih tau gimana caranya”.
Saat kita bilang, “Tuhan, lihat apa yang mereka lakukan terhadap aku, mereka menghinaku!”. Yesus akan berdiri antara kita dan orang yang menghina kita itu, Dia yang menerima hinaan itu terlebih dahulu, kita hanya sembunyi di belakang tubuhNya.
Saat kita bilang, “Sudah cukuuuppp… aku ga bisa mengampuni dia!!”. Tuhan Yesus bilang, “tunggu di sini, lihat gimana cara mengampuni”. Lalu Yesus naik ke kayu salib itu dan merentangkan tanganNya, “gini caranya… Aku mengasihi kamu… aku mengampuni kamu!”.
Saat kita berkata, “ Aku sendirian, tidak ada seorangpun yang mau menemaniku!!”. Yesus akan berkata, “ Walk with me!”.
Lihatlah apa yang telah Tuhan Yesus lakukan buat kita. Dia tawarkan suatu kebebasan bertanggung jawab kepada kita. Suatu kuk yang tidak membebani kita, kuk yang kita pikul namun seperti tidak memikul kuk/ beban, ringan dan pas buat kita. Itulah hidup dalam kebebasan.
(iyut)
Freedom adalah kebebasan, berarti kita memiliki tanggung jawab yang baru. Banyak orang menantikan suatu kebebasan, tetapi ketika kebebasan itu datang, o..oow. Seberapa banyak orang yang malah bersyukur mendapatkan kebebasan. Reaksi umum saat menerima kebebasan adalah kaget akan perubahan.
Mari kita membayangkan…, bagaimana perasaan orang Israel ketika mereka baru saja masuk ke tanah perjanjian. Hmmm… Kita tau bersama, itulah kebebasan yang sebenarnya untuk mereka. Mereka terbebas dari penjajahan, mereka sudah dapat menentukan hidup sendiri, bahkan menu makanan yang baru. Selama ini kan menu makanan mereka adalah manna. (Mungkin…. manna rebus, manna tumis, manna goreng, manna cah gagak…). Tiba-tiba, mereka harus menerima kenyataan…. Sejak mereka masuk ke tanah perjanjian, tidak ada lagi manna (Yosua 5:12). Mereka harus bekerja, bercocok tanam. Mereka harus mulai menabur, menunggu dan menuai.
Bayangkan saja mereka yang lahir di padang gurun, mereka sudah terbiasa tidak perlu menabur dan menuai apalagi menunggu. Bayangkan lagi 40 tahun ga kerja, sekarang… harus kerja. OMG! Saatnya mereka mulai belajar mengelola kebebasan yang sebenarnya itu. Bisa juga dibayangkan seorang anak remaja yang merasa risih tinggal di rumah ortu sendiri karena harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh ayahnya. Mereka pasti ingin bebas, punya rumah sendiri, bisa melakukan apa saja. Hmm… pasti sudah terbayang kelakuan si anak terhilang. (Luk 15:11-32)
Si anak bungsu ingin bebas, menerima harta, menjualnya dan berfoya-foya. Wew… si bungsu tidak mengelola kebebasannya, apa yang didapatnya? Kemelaratan. Sampai akhirnya dia sadar dia perlu kembali ke payung otoritas sang ayah. Alkitab tidak menjelaskan seberapa lama dia hidup melarat, tetapi kita tau kemelaratannya akibat dari tidak bisa mengelola kebebasan.
Ketika manusia diciptakan, Tuhan sudah menyediakan semuanya untuk manusia, bahkan Tuhan memberikan kebebasan untuk mengelola. Tanah sudah menanti manusia untuk dikelola (Kej 2:5 – belum ada yang mengusahakan tanah itu). Tuhan tidak membuat robot, atau sebuah program yang bisa menyembahNya kapan saja. Justru Tuhan memberikan kuasa (dominion = memimpin, mengontrol, menjaga, menjadi pengurus/ steward), seolah-olah Tuhan mau berbagi kuasa dengan manusia, supaya manusia punya visi yang sama dengan Tuhan. (Kej 1:26).
Tuhan Yesus juga menawarkan suatu kebebasan kepada orang Yahudi di Mat 11:28-30. Kebiasaan orang Yahudi adalah melakukan segala hukum dan tradisi nenek moyang (Kis 15:10) tanpa cacat cela, contohnya adalah Petrus (Kis 10:14). Tuhan Yesus berkata, “Apakah kamu capek, lelah dengan peraturan agama. Datanglah padaku, Aku akan tunjukkan bagaimana caranya beristirahat yang benar-benar istirahat. Yuk.. jalan bersamaKu, kamu kerja buat Aku saja. Pertama… kamu lihat Aku dulu bagaimana Aku melakukan pekerjaannya, setelah itu baru kamu yang melakukannya. Kamu bisa belajar dariKu. Aku ga akan memberikan seuatu/ perkerjaan yang memberatkanmu dan menyakitimu, harus yang cocok denganmu. Tetaplah bersamaKu supaya kamu belajar hidup dengan bebas dan enteng”.
Kebebasan yang Yesus beri adalah kebebasan bersyarat, yaitu “pikullah kuk (yoke)…”, yang berarti adalah tanggung jawab yang baru, cara yang baru. Kuk yang lama adalah kuk perhambaan dari tuan yang lama yaitu hukum keagamaan dan tradisi. Yesus menawarkan sesuatu yang berbeda, kuk tidak berat dan yang pasti yang cocok dengan masing-masing pribadi, yang dimana tuannya adalah Yesus sendiri. Syarat untuk bebas dari ‘tuan’ atau ‘kuk perhambaan’ yang lama adalah tinggalkan kuk itu dan datang kepada Yesus, kenakan/ pakai kuk yang Yesus berikan. Tetapi kita tetap memakai kuk, yaitu tanggung jawab. Kita harus bertanggung jawab atas keselamatan/ kebebasan yang telah Yesus berikan.
Bebas itu berarti menerima tanggung jawab baru. Bangsa Israel terbebas dari penjara Mesir, mereka harus menerima tanggung jawab baru mengusahakan tanah perjanjian itu. Anak yang bungsu ketika bebas dari ‘tahanan rumah’ menerima harta, seharusnya mengelola harta yang diterimanya itu. Manusia diberi kebebasan makan apa saja di Taman Eden, asal jangan buah pengetahuan. Berarti kebebasan itu selalu ada syaratnya supaya berhasil.
"Are you tired? Worn out? Burned out on religion? Come to me. Get away with me and you'll recover your life. I'll show you how to take a real rest. Walk with me and work with me—watch how I do it. Learn the unforced rhythms of grace. I won't lay anything heavy or ill-fitting on you. Keep company with me and you'll learn to live freely and lightly." (Mat 11:28-30 terjemahan The Message).
Sering kita merasa lelah dan letih dalam melayani Tuhan. Kadang-kadang kita sudah terperangkap dalam keagamawian, program gereja yang tadinya memang bertujuan baik, namun lama-kelamaan sudah dijadikan ritual yang ternyata eh ternyata Tuhan sudah tidak berkenan akan apa yang kita lakukan, alias Tuhan tidak ada di situ lagi. How terrible? Kita tidak lagi melayani Tuhan, tetapi hanya melayani pekerjaan Tuhan.
Suatu kali teman saya menasehati saya dan mengingatkatkan saya, “ Melayani Tuhan adalah saat kita membangun mezbah pribadi kita, saat kita di gereja atau dalam suatu pelayanan, kita sedang melayani manusia (melayani pekerjaan Tuhan)”. Saat kita membangun mezbah pribadi, persekutuan pribadi, hanya antara diri kita sendiri dan Tuhan, di saat itulah kita bisa tau bagaimana seharusnya kita melayani Bapa kita itu. Apa maunya Bapa, perlakuan seperti apa yang diinginkanNya.
Saat seperti itulah kita dapat curhat bebas, bahkan hanya untuk berkata, “Bapa aku capek, aku dah lakukan semua… apa lagi Bapa? Hahh…”. Inget perkataan Yesus, “Watch how I do it”. Ketika kita berkata, “Tuhan.. aku ga bisa!”. Tuhan ga bakal membuang kita, bahkan Dia bilang, “Lihat Aku, Aku kasih tau gimana caranya”.
Saat kita bilang, “Tuhan, lihat apa yang mereka lakukan terhadap aku, mereka menghinaku!”. Yesus akan berdiri antara kita dan orang yang menghina kita itu, Dia yang menerima hinaan itu terlebih dahulu, kita hanya sembunyi di belakang tubuhNya.
Saat kita bilang, “Sudah cukuuuppp… aku ga bisa mengampuni dia!!”. Tuhan Yesus bilang, “tunggu di sini, lihat gimana cara mengampuni”. Lalu Yesus naik ke kayu salib itu dan merentangkan tanganNya, “gini caranya… Aku mengasihi kamu… aku mengampuni kamu!”.
Saat kita berkata, “ Aku sendirian, tidak ada seorangpun yang mau menemaniku!!”. Yesus akan berkata, “ Walk with me!”.
Lihatlah apa yang telah Tuhan Yesus lakukan buat kita. Dia tawarkan suatu kebebasan bertanggung jawab kepada kita. Suatu kuk yang tidak membebani kita, kuk yang kita pikul namun seperti tidak memikul kuk/ beban, ringan dan pas buat kita. Itulah hidup dalam kebebasan.
(iyut)
Rabu, 20 Mei 2009
Menjadi....
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya" (Luk:2:52)
Lukas 2:41-52
Manusia merupakan mahluk yang bertumbuh. Tidak seperti benda mati yang keadaanya tetap. Cobalah teliti dalam hidupmu, sedikit/ banyak pasti ada pertumbuhan dalam diri kita, baik secara fisi maupun pikiran. Cuma pertumbuhan yang kita alami ke arah negative/positive.
Walaupun Tuhan Yesus memiliki segalanya dan sempurna, Ia juga mangambil bagian menjadi manusia yang bertumbuh. Kitab Lukas 2:52 mengataka "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya.” Ternyata Yesus lebih menyukai proses yang membuat dirinya bertumbuh/menjadi.
Kehidupan ini sangat kompleks dan pelik. Tidak ada pernah tetap. Sehingga untuk mengatasi segala problema hidup ini kita harus terus berjuang habis-habisan untuk menjadi makin serupa seperti Kristus. Jangan pernah merasa puas dan cukup akan kehidupan rohani kita.
GLOWers, banyak anak muda tidak menyadari begitu besarnya pengaruh yang didapat ketika anak-anak muda mencari dan dekat kepada Tuhan. Ayo, teruslah menambahkan sifat-sifat Kristus dalam diri kita.
Lukas 2:41-52
Manusia merupakan mahluk yang bertumbuh. Tidak seperti benda mati yang keadaanya tetap. Cobalah teliti dalam hidupmu, sedikit/ banyak pasti ada pertumbuhan dalam diri kita, baik secara fisi maupun pikiran. Cuma pertumbuhan yang kita alami ke arah negative/positive.
Walaupun Tuhan Yesus memiliki segalanya dan sempurna, Ia juga mangambil bagian menjadi manusia yang bertumbuh. Kitab Lukas 2:52 mengataka "Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya.” Ternyata Yesus lebih menyukai proses yang membuat dirinya bertumbuh/menjadi.
Kehidupan ini sangat kompleks dan pelik. Tidak ada pernah tetap. Sehingga untuk mengatasi segala problema hidup ini kita harus terus berjuang habis-habisan untuk menjadi makin serupa seperti Kristus. Jangan pernah merasa puas dan cukup akan kehidupan rohani kita.
GLOWers, banyak anak muda tidak menyadari begitu besarnya pengaruh yang didapat ketika anak-anak muda mencari dan dekat kepada Tuhan. Ayo, teruslah menambahkan sifat-sifat Kristus dalam diri kita.
Arloji yang hilang
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin." (Pengkhotbah 4:6). "
~ Tarsis Sigho IV Taipei
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin." (Pengkhotbah 4:6). "
~ Tarsis Sigho IV Taipei
Langganan:
Postingan (Atom)