Kamis, 01 April 2010

Sudah Selesai!

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Yoh 19:30
Di atas kayu salib, sebelum Yesus menyerahkan nyawaNya kepada Bapa, Yesus mengatakan “sudah selesai”. Apa yang sudah selesai? Dalam bahasa Inggris (dalam beberapa terjemahan spt KJV, NIV, RV, NASB), “It’s finished”. Dalam terjemahan LITV ditulis, “It has been finished”, yang menunjukkan Yesus benar-benar yakin berkata, “baru saja selesai”. Terjemahan NET mengatakan, “It’s completed”. Dalam bahasa Greek “teleo”, berasal dari “teleios” yang berarti mencapai akhir, tujuan.
Mengapa Yesus berkata “It’s finished”, mengapa bukan “I am finished”, bukankah nyawaNya terputus setelah itu? Perhatikan di sini, “it” adalah kata benda, yang berarti di sini adalah tugas/ pekerjaan/ tanggung jawab. Kata “finished” menerangkan “it”. Saya kagum dengan Yesus. Dia yakin betul bahwa semua tugas yang harus dilakukanNya sudah benar-benar selesai. Banyak orang yang cepat masuk liang kubur tanpa yakin telah benar- benar menyelesaikan tugasnya di bumi. Bukan hanya itu, orang yang masih hidup pun tidak begitu yakin apakah ia melakukan ‘pekerjaan’/ ‘tanggung jawab’ yang seharusnya ia kerjakan di bumi.
Ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, Dia berfirman dan semuanya itu jadi. Tetapi ketika Tuhan berfirman “beranak cuculah dan bertambah banyak…”, firman ini tidak langsung menjadi kenyataan. Ketika Tuhan menciptakan Adam, Ia menghembuskan nafas hidup untuk Adam. Ada potensi Allah yang dititpkan Allah untuk manusia. Potensi yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia tidaklah sama. Potensi itu seperti benih yang Tuhan tabur, kita manusia adalah tanahnya dan Tuhan juga yang memberikan hujan, Tuhan yang memberi pertumbuhan tetapi kita lah yang harus mengusahakan tanah itu (Kej 2:5).
Dalam Matius 5:48 “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.". Kata “sempurna” di sini menggunakan kata “teleios” yang juga berarti komplit, full-grown alias dewasa. Memang benar hanya Tuhan yang sempurna, tetapi Tuhan menginginkan kita untuk menjadi sempurna/ dewasa. Orang yang dewasa dapat menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan padanya, orang yang dewasa dapat menemukan tujuan hidupnya dan orang yang dewasa “wanting in nothing”.
Temans, jangan sia-siakan hidupmu. Potensi apapun yang Tuhan titipkan kepada dirimu, kerjakanlah itu. Kita yakin Tuhan beserta kita, just do it, do your best. Ingat “langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya” (1 Sam 2:9). TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya (Mzm 37:23). Hanya orang yang ‘melangkah’ yang akan diberkati, bukan orang yang diam statis. Jadilah terang (kalos = excellent), sampai ajal menjemput, kita dapat berkata “it’s finished”. Happy Passover. GBU.

Jumat, 08 Januari 2010

Talenta

TALENTA
Mat 25:14-30

Apakah talenta itu? Talenta adalah ukuran timbangan di Timur Tengah, pada zaman alkitab sebesar 3000 syikal (sekitar 34 kilogram). Dalam Perjanjian Baru, 1 talenta merupakan ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu 6000 dinar. Satu dinar adalah upah pekerja (kebun anggur) dalam sehari (Mat 20:2).

Setiap hari kita diperhadapkan dengan keuntungan vs resiko, kemalasan vs kemiskinan, kerajinan vs kekayaan, keberuntungan vs kesialan. Bahkan hari sial juga diijinkan Tuhan unruk terjadi. Setiap hari kita harus mengambil keputusan apa yang harus kita lakukan dalam seharian itu. Bahkan hal mood baik atau mood buruk juga kita yang tentukan. Itulah bagian yang menjadi tanggung jawab kita setelah Tuhan telah melakukan bagiannya untuk kita. Setiap Firman Tuhan yang Tuhan berikan selalu melibatkan ‘apa yang akan Tuhan lakukan bagi kita’ dan ‘apa yang harus kita lakukan’.

Setiap orang telah Tuhan titipkan ‘modal dasar’ untuk menjalankan hidupnya, dapat berupa bakat, kemampuan, talenta, apakah seseorang itu pandai bicara, apakah seseorang itu jago dalam hal berpikir, berhitung, membuat konsep, pekerja bahkan hanya ahli dalam hal bermimpi. Setiap orang diberikan ‘seed of greatness’ yang berbeda-beda. Jika hal ini dapat kita sadari di dalam suatu keluarga, komunitas, perusahaan ataupun gereja, perbedaan seperti ini adalah kekuatan yang luar biasa. Setiap orang mempunyai bagiannya sendiri-sendiri. Tidak semuanya bisa berbicara kepada orang seperti layaknya sales, penginjil, tetapi ada orang yang yang hanya membuat konsep. Bagi dirinya berpikir adalah suatu pekerjaan. Di dalam gereja ada yang mengkhususkan diri hanya sebagai pembrita Firman Tuhan (Kis 6:2), ada yang hanya sebagai pelayan meja, langsung terjun ke masyarakat atau jemaat. Tentu saja semua itu Tuhan jadikan untuk kebaikan.

Rasanya tidak adil, jika orang tua hanya menganggap pintar seorang anak yang jago matematika saja. Tidak adil juga bagi seorang anak yang suka bicara dianggap nakal. Seorang guru di sekolah menganggap anak yang kinestetik itu nakal, bukankah itu aneh? Padahal setiap orang tua pernah berdoa agar Tuhan memberikan anak yang terbaik yang akan dia lahirkan di keluarganya. Ini semua hanya tergantung dengan bagaimana kita mengelola berkat Tuhan, yang kita minta sebagai “yang terbaik” dari Tuhan. So do not complain.

Kembali kepada talenta. 1 Talenta = 6000 dinar. Dan 1 dinar adalah upah minimum regionalnya (karena upah ini diberikan kepada pekerja kebun anggur). Kita akan berbicara tentang UMR (Upah Minimum Regional). Misalnya saja di Indonesia, Jakarta, ada orang yang menghitung (berdasarkan harga minyak dunia) Rp 900.560/ bulan, katakana saja Rp 30.000/ hari. Mari kita berhitung…. Mari kita lihat mengapa seorang tuan yang menitipkan talenta kepada hamba-hambanya itu marah ketika mendapati seorang yang dititipkan 1 (satu) talenta itu tidak mengelola talenta/ uang tersebut. Sebegitu kejamkah tuan itu? Jika tuan itu dianalogikan sebagai Tuhan, sekejam itukah Tuhan?
Uang yang dititipkan itu jika diberikan kepada orang Indonesia,
• Untuk yang satu talenta:
1 talenta x 6000 hari kerja x Rp 30.000 = Rp 180.000.000
• Untuk yang dua talenta:
2 talenta x 6000 hari kerja x Rp 30.000 = Rp 360.000.000
• Untuk yang 5 talenta:
5 talenta x 6000 hari kerja x Rp 30.000 = Rp 900.000.000

Wow… banyak yaaa!! Bisa kita bayangkan uang sebegitu banyak, Rp 180 juta hanya disimpan di bank, belum lagi kalau banknya diliquidasi, habislah. Pernahkah kita mempunyai mimpi menjadi produsen bukan konsumen? Pernahkahn kita berpikir untuk melakukan sesuatu untuk Negara ini, tidak hanya numpang menerima subsidi saja, tetapi bisa menjadi berkat menjadi bangsa ini? Seharusnya orang Kristen dapat ‘mencipta’ bukan hanya menikmati hasil ‘cipta’ orang lain. Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan Allah yang kreatif, seharusnya kita yang percaya kepadaNya juga dapat melakukan hal-hal yang besar bersamaNya, memakai namaNya yang ajaib dan menjadi luar biasa bersama denganNya. Seperti wajar Tuhan marah kepada hamba yang malas itu.

Ingat, Tuhan menitipkan ‘benih’ yang luar biasa itu di dalam diri kita. Alkitab mengatakan iman sebiji sesawi atau biji sawi dapat memindah gunung. Asalkan iman itu disiramin, diberi makan dan diberi lahan yang baik untuk bertumbuh. Bagaimana jika kita adalah biji sawi itu? Bukankah kita perlu disirami, kita perlu lahan yang subur, kita perlu nasihat-nasihat, kita perlu didikan, siraman rohani dan jasmani, terutama kita butuh makanan. Tanpa makanan kita tidak dapat ikut dalam pengalaman rohani juga.

Bukan hanya itu saja Dia beserta dengan kita. Tuhan melihat kita dalam segala kesukaran kita (Mark 6:48). Ia akan sengaja melewati kita untuk memastikan kita dalam keadaan baik-baik saja, walaupun Dia tau betapa ahlinya kita melakukan pekerjaan kita itu. Padahal dalam peristiwa sebelumnya di Mark 4:39-40, Yesus sudah mentraining mereka -- para murid, setidaknya Yesus sudah mengajari bagaimana cara mereka menghadapi badai di saat mereka para professional kelautan sudah menyerah, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”.

Kemudian pada peristiwa angin sakal berikutnya, Yesus yakin bahwa mereka pasti bisa melewati angin sakal itu, karena mereka sangat professional dan juga mereka sudah ditraining sebelumnya. Namun demikian, Yesus tetap mengechek keadaan mereka apakah mereka baik-baik saja menghadapi angin sakal? Haha… sayangnya mereka gagal karena tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal Yesus, bukan karena menghadapi angin sakal. Mereka lolos menghadapi angin sakal, tapi gagal ketika ‘menganggap’ Yesus sebagai pribadi yang lain, Hantu. Tetaplah ingat Yesus dalam keberhasilan kita, kenalilah Tuhan kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita sekalipun Dia tau kita sangat professional di bidang kita, sekalipun kita berada pada tempat dan waktu yang tepat.

Kembali ke hal talenta. Di dalam Matius 18:21-35. Ada kisah dua orang hamba yang berhutang, yang satu berhutang 10.000 talenta. Dan yang satu berhutang 100 dinar saja. Perbandingannya 1:600.000. Mari kita lihat perbadingannya, seandainya kasus ini terjadi di Indonesia:
• 10.000 x 6000 = 60.000.000 dinar atau 60.000.000 hari kerja atau 164.384 tahun. Jika seandainya 1 (satu) generasi – jarak umur antara orang tua dengan anak adalah 30 tahun, maka ada 5.479 generasi yang harus bekerja kepada tuannya, masing-masing 15 tahun. Atau jika hamba tersebut mempunyai anak 10 saja dalam tiap generasi, maka hutangnya dapat selesai dalam 16 tahunan, tiap orang dalam 4 generasi harus bekerja pada tuannya paling tidak 16 tahun, itupun harus setiap hari kerja. (Hitungannya 164.384 tahun/ 104 = 16,4384 tahun). Atau si hamba ini harus memproduksi lebih banyak anak, supaya hutangnya bias cepat lunas. HUtang apakah dia ini sampai 60.000.000 x Rp 30.000 = Rp 1.800.000.000.000. Wew… ini hutang Negara atau organisasi euy. Atau si Hamba ini hutang judi kah? Tapi ajaibnya… Sang Tuan membebaskan hamba tersebut dari hutang 4 generasi itu. Whattt???? Lohh.. koq enak yaa?
• Hamba dari Hamba dari tuan yang membebaskan hutang itu punya hutang 100 dinar saja, alias 100 hari kerja. Hanya 100 hari kerja, kira-kira 4 bulan saja (1 bulan = 25 hari kerja). Tetapi si hamba yang baru dibebaskan dari hutang ini memasukkan hambanya dalam penjara. Oo.. bagaimana bias melunaskan hutang bila dipenjara? Bagaimana bisa bekerja? Bukankah artinya si hamba yang jahat ini dendam sama sekali dan tidak mau membebaskan hambanya yang berhutang hanya 100 dinar itu? Yahh sekitar Rp 30.000 x 100 = Rp 3.000.000 doang.

Perumpamaan ini tentang pengampunan. Pengampunan lebih bermanfaat untuk si pemberi pengampunan dibandingkan dengan yang diberi pengampunan. Jika tidak mengampuni maka para tormentor akan menyiksa sehingga makin buruklah keadaan orang yang tidak mengampuni itu.

Back to talenta again…. Saya bicara kepada temen-temen remaja/ pemuda, “heyy… seandainya bokap lo ngasih uang Rp 180 juta, mau lo apain? Lo tega hanya nyimpen di bank, atau mulai berpikir bagaimana cara menghabiskannya? Heyy.. young people be smart!!”. Selama 16 tahun minimal nih (6000 hari kerja/365 = 16,4 tahun) kita tinggal gratis di rumah Bapak kita, tanpa bekerja. Tanggung jawab kita hanya sekolah doang. Apakah 16 tahunnya dimulai dari kita masuk SD kah, atau mulai kita lahir kah, tergantung dari anugrah pada masing-masing pribadi. Itu hanya minimal. Anak-anak Tuhan tidak dibiarkan minta-minta roti. Roti untuk dimakan. FT tidak bilang berlian/ emas/ mobil Ferrari/ BMW lohhh, tapi roti. Minimal Tuhan menyediakan makanan untuk dimakan, tidak harus makan mewah, tetapi makanan saja. Kalau mau makan mewah ya harus berusaha lebih. Hehe...

Temen-temenku yang sudah bekerja, apakah kita tidak berpikir untuk membangun bangsa ini. Ini zamannya kita, generasi kita, bangsa ini ada di tangan kita. Jangan lupa utang bangsa juga dibebankan kepada generasi kita. Bagaimanakah kita mengelola ‘Rp 180 juta’ yang diberikan kepada kita? Let’s we think smart. We can do it. Yukz kita ber-entrepreneur ria, menyediakan lapangan kerja, bukan hanya kerja di lapangan kerja yang sudah tersedia. Kita anak-anak Tuhan, pastinya kita juga dititipkan gen kreatif, karena kita kita mempunyai Tuhan yang kreatif. He is Elohim, God is creator.

Bagaimana cara mengelola ‘Rp 180 juta’ itu tergantung pada ‘seed of greatness’ kita masing-masing. Pastinya berbeda satu sama lain. Ada yang jago di satu bidang, dan lemah di bidang yang lain. Ada yang jago ngomong, cocok jadi sales. Ada yang jago berpikir, analisa cocok pada pekerjaan laboratorium, dll. Yuk kita berkreasi, lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan sehingga kita dapat melakukan yang terbaik. Lakukan saja apa yang kita senangi, senangi apa yang kita kerjakan.

“Bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah Dia beri, Jangan complain terhadap apa yang tidak Tuhan beri”.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Waktunya vs WaktuNya

Pepatah mengatakan “indah pada waktunya”. Bertahun-tahun saya berpikir arti dari pepatah ini adalah segalasesuatunyanya terjadi atas kehendak Tuhan. Bertahun-tahun saya hanya mendengar pepatah ini tanpa memperhatikan sumber dimana tulisan ini dituliskan. Ketika saya benar-benar membaca di sumber tulisan ini dituliskan, kata ’nya’ pada ‘waktunya’, bukan menunjukkan kepemilikan Tuhan, tetapi untuk manusia atau benda tertentu. Pikiran saya masih berdalih, “akh… sepertinya salah tulis”, namun hati saya tidak sejalan, “tidak ada yang salah dengan penulisan ini”. Pepatah ini benar adanya.

Setiap benda ataupun manusia mempunyai life time tertentu. Setiap benda elektronik dapat dihitung life timenya, bias dihitung dari data yang tercatat di book sheetnya, ditambah data lama pemakaian. Hidup manusia juga dapat dihitung menurut pola hidup yang dilakukannya (note: perhitungannya minus kasih karunia ya). Ada website yang dspat menghitung umur anda, tujuannya adalah agar Anda dapat memperhatikan pola hidupmu, check it out http://www.deathclock.com/. Jika Anda tidak memperhatikan signing tersebut, maka perhitungan tersebut bisa saja tepat. Ini bukan ramalan bintang, tapi logika.

WaktuNya

Bicara soal waktu Tuhan, bahwa Allah itu dapat menginterfensi hidup manusia itu. Kapan saja, dimana saja, tidak ada yang pernah tau. Ada bagian Alkitab yang menjelaskan pada kita, bahwa Tuhan bersembunyi di awan gelap. Tuhan senang ditemui di tempat persembunyianNya. Tetapi menurut ‘waktuNya’, Dia akan keluar dari awan gelap dan menyatakan kemuliaanNya. Seringkali Tuhan mempercepat ‘waktunya’ itu. Artinya Tuhan menginterfensi hidup manusia itu. Dia tau jika ‘waktunya’ tidak dipercepat, maka akan lebih banyak penderitaan/ kerusakan yang dialami manusia tersebut. Dia tau manusia tidak sanggup melaluinya sendiri, oleh sebab itu Dia mempercepat ‘waktunya’ dengan menginterfensinya menjadi ‘waktuNya’. ‘WaktuNya’ juga sering digunakan kata ‘harinya Tuhan’, the day of The lord, yaitu waktu tertentu saat Dia menyatakan diriNya.

Waktunya

Untuk segala sesuatunya di muka bumi ada waktunya. “there is appointed time”. Tuhan sudah menciptakan waktu. Bahkan di dalam hidup manusia juga dititipkan signing waktu, ‘time clock’ manusia, yaitu jantung. Menurut detak ‘clock’ ini semua system informasi tubuh manusia ini diatur. Ada waktu untuk makan, ada waktu mengunyah dibantu oleh enzim air liur, ada waktu untuk penyerapan, ada waktu untuk mencerna, ada waktu untu pembuangan zat sisa. Prosses ini kita kenal sebagai metabolism tubuh. Jika life time manusia ini telah selesai, time clock jantung juga berhenti, manusia mati.

Seorang anak yang lahir harus tumbuh. Ketika berusia 9 bulan, jika anak tidak bisa berjalan, orang tua akan kalang kabut. Pada usia 2 tahun, anak belum bisa bicara, orang tuanya juga kalang kabut. Usia 5-6 tahun, seorang anak harus masuk sekolah dasar, dst. Jika anak tersebut pada waktunya seharusnya sudah tamat sekolah, tetapi ia tidak mencapainya, ia sudah kehilangan momennya waktunya.

Tuhan Yesus pernah mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Mat 11:33). Memang saat itu belum ‘waktunya’ (kairos) untuk berbuah, namun, pohon tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbuah sama sekali. Ada akibat jika tidak mencapai ‘waktunya’. Di dalam bagian lain alkitab (Ibr 5:12), ada ayat yang mengatakan, ”ditinjau dari sudut waktu (chronos), sudah seharusnya menjadi pengajar”.

Ada dua jenis waktu, yaitu kairos dan chronos. Kairos adalah waktu pencapaian, periode kualitatif, ditandai oleh pengaruh atau prevalansi dari sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari yang kita kenal sebagai quality time, waktu cuplik, sebentar saja. Menurut arti kamusnya (http://www.kypros.org/cgi-bin/lexicon), yaitu time, wheather. Chronos adalah waktu kuantitatif, periode yang dapat diukur dengan benda-benda dan peristiwa dan menunjukkan berlalunya saat. Menurut arti kamusnya, tense, tenure, time). Contohnya: ‘sudah sekian lama’, Mark 9:21, dll.

Jangan sampai kita kehilangan ‘waktunya’, kitalah yang harus mengatur bagaimana kita harus hidup. Ketika kita percaya pada janji Tuhan, janji itu punya waktu untuk sampai kepada penggenapannya. Alkitab berkata “apabila sudah datang waktunya (kairos), kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:9). Berarti kita bisa kehilangan momennya. Banyak orang kehilangan momen menikmati janji Tuhan. Ada yang seharusnya sudah (waktunya-kairos) mendapatkan berkat besar, namun berkat itu tertahan, atau berkat itu tidak jadi datang. Padahal Tuhan sudah mempersiapkan berkat yang seharusnya menjadi milik kita itu. Namun ketika waktunya tiba, kita kurang kualify untuk menerima berkat itu, maka lewatlah kairos kita itu. Wow.. sayang sekali ya… Come on my friend, jangan biarkan momen indah bin luar biasa itu terlewat saja di depan hidungmu, raihlah berkatmu, tetap kuat dalam Tuhan, Dia pasti memberi kekuatan. Jangan pernah harapkan mujizat jika kamu tidak mau melangkah. Tuhan memberkati “langkah-langkah orang”, artinya hanya orang yg melangkah, bukan duduk diam menunggu. Memang ada waktunya kita berdoa, menunggu hadirat Tuhan, tetapi tidak layak kalau kita hanya berdiam diri saja. Ada yang menjadi bagian Tuhan (kewajiban), ada yang harus kita kerjakan (kewajiban kita). Kita bukan managernya Tuhan, Dialah manager kita, seharusnya kita yang lebih banyak bekerja. Come on jangan jadi Kristen manja yang hanya mengharapkan mujizat, tanpa mau dibentuk jadi dewasa.

Begitu berharganya waktu. Kej 1:5 Tuhan menciptakan waktu. Setelah menciptakan terang, maka waktu juga diciptakan. Waktu berfungsi untuk membantu mengatur segala sesuatu, sebagai penanda. Semua yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah untuk dikelola dengan baik, termasuk waktu. Jika kita tidak mengatur waktu, sudah pasti kita yang akan diatur olehnya. Kitalah yang seharusnya me-manage waktu, bukan waktu yang mengatur kita. Bagaimana mungkin orang berkata “akh.. aku tidak punya waktu”. Mungkin lebih tepatnya adalah, “maaf, saya belum bisa mengatur waktu saya”. Semua manusia diberikan waktu oleh Tuhan 24 jam saja. Aturlah waktu dengan baik, waktu untuk berdoa, waktu untuk berbincang dengan keluarga, waktu beribadah kepada Tuhan, waktu untuk bermain, waktu untuk istirahat. Bahkan Tuhan juga sangat menghargai waktu tidur kita. Tidur juga idenya Tuhan. Pada waktu tidurlah kita diberkatinya. Semuanya mempunyai porsi masing-masing, yang tidak boleh dihilangkan salah satunya pun. “Selamat mengatur waktu, jangan sampai kehilangan momen”.

Rabu, 14 Oktober 2009

Menghormati vs Mentaati Orang tua

Apakah menghormati itu sama dengan mentaati? Tentu saja berbeda. Mari kita melihat defenisi dari menghormati dan mentaati ini. Sering sekali kita menggunakan kata-kata ini dalam konteks arti yang sama. Kesalahan dalam penggunaan kata ini membuat kita keliru dan betapa sayangnya lagi jika dalam hal kita membaca dan melakukan Firman Tuhan juga bias salah. Hah??

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang sudah dionlinekan (http://kamusbahasaindonesia.org),

* menghormati berarti: (1) menaruh hormat kpd; hormat (takzim, sopan) kpd: anak-anak wajib ~ orang tua; (2) menghargai; menjunjung tinggi: kita harus ~ pendapat dan keyakinan orang lain; (3) mengakui dan menaati (tt aturan, perjanjian): kita akan ~ persetujuan dan perjanjian yg telah kita buat
* Taat, berarti: senantiasa tunduk (kpd Tuhan, pemerintah, dsb); patuh.



Secara singkatnya dapat diterangkan bahwa, menghormati itu tidak sama dengan mentaati/ taat. Menghormati belum tentu taat, tetapi taat sudah pasti menghormati, harus mengikuti secara penuh. Konteks ‘menghormati’ jika bersentuhan dengan peraturan, berarti sudah memasuki daerah ‘taat’, harus dijalankan.

Apakah yang dikatakan alkitab tentang kedua hal ini? Alkitab tidak menyuruh kita (secara global/ keseluruhan) untuk mentaati orang tua. Marilah kita perhatikan apa yang alkitab katakana tentang kedua hal ini.

Ef 6:1 “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.”

Anak-anak (tekna) di sini adalah anak yang masih di bawah perawatan/ pengawasan orang tuanya, anak yang belum dewasa. Anak di sini bukanlah dalam arti kiasan, tetapi anak dalam arti denotasi/ yang sebenarnya.

Di masing- masing daerah ada peraturan yang berbeda-beda. Ada daerah yang menyatakan seorang anak itu telah dewasa jika sudah berumur 17 tahun, ada juga yang dinyatakan dewasa jika sudah menikah walaupun usianya masih 15 tahun. Secara standarnya kita mengikuti undang-undang di Indonesia secara global. Untuk mengecheck usia berapa yang sudah masuk usia dewasa, gampang! Silahkan saja pergi melayani ke penjara anak, dan tanyakan usia maksimal di penjara anak. Di Indonesia, seseorang dinyatakan dewasa adalah ketika dia memasuki usia 21 tahun.

Jika diterjemahkan ke bahasa kita nih, “Hai anak-anak (20 tahun ke bawah), taatilah orang tuamu di dalam Tuhan,…”. No comment, no reason, kudu taat cinngg. Wew… sorang remaja zaman sekarang pasti akan risih mendengar perkataan ini. Di sekolah-sekolah internasional di Indonesia, mulai dari anak playgroup sampai jenjang university sudah diajarkan berargumen dengan orang tuanya. Khususnya buat anak-anak remaja (usia 12 thn – 20 thn), anak baru melek baru melihat dunia, terkontaminasi dengan pergaulan, punya kehendak bebas, menyadari punya potensi dan hidup di zaman serba knowledge. Tidak sedikit anak muda yang menganggap orang tuanya sangat kolot tidak tau perkembangan zaman. Ya secara sih emang bener, tetapi alkitab tidak menganjurkan memandang orang tua sebelah mata.

Lanjut… Jangan senang dulu 21 tahun ke atas… Alkitab menuliskan peraturan yang jelas tentang ‘menghormati orang tua’. Ef 6:2-3, “Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi”. Perintah untuk menghormati orang tua adalah perintah pertama untuk perintah ‘mengasihi sesama manusia – kasih secara horizontal’. Wow…. Setiap orang, besar, kecil, tua, muda diwajibkan untuk menghormati orang tua. Di dalam Kel 20 juga mencatat tentang menghormati orang tua.

Ingat prinsipnya, menghormati belum tentu harus taat. Tetapi di dalam ketaatan terdapat hormat. Seorang anak pasti akan tumbuh dewasa. Setelah dewasa, dia punya tanggung jawab atas dirinya sendiri, dia harus menentukan arah hidupnya sendiri. Apalagi jika seorang anak tersebut menikah dan punya keluarga sendiri, ia tidak harus taat lagi kepada orang tuanya namun tetap harus hormat kepada orang tua. Secara manusiawi yang diciptakan Tuhan begitu unik, antar anak dan orang tua saja pasti ada selisih pendapat, tetapi keputusan ada di tangan pribadi sang anak itu. Jika orang tua memberi nasihat, sudah sepantasnya kita untuk mendengarkannya, namun semua itu hanyalah saran yang positif untuk kita. Belum tentu saran tersebut berfaedah bagi kita. Tidak semua hal yang baik berfaedah bagi kita. Jangan lupa tetap menghormati orang tua.



Ada suatu organisasi gereja yang mempunyai peraturan bahwa seorang anak dosanya masih ditanggung orang tuanya, sampai anak ini belajar alkitab di usianya 17 tahun. Istilahnya adalah naik sidi. Saya hanya berpikir (walaupun saya tidak setuju dengan prinsip ini, tetapi saya menemukan suatu nilai positif), mungkin maksud mereka adalah 17 tahun adalah usia dewasa, atau seorang yang sudah naik sidi sudah dinyatakan dewasa. Mereka harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri (termasuk dosanya ), karena tidak berada di bawah tudung orang tuanya lagi, tidak berada di bawah otoritas orang tuanya lagi. Seorang anak, ada di bawah asuhan orang tuanya, di bawah tanggung jawab orang tuanya, tetapi ketika dia dinyatakan dewasa maka dia keluar dari tudung orang tuanya.

Di dalam pertumbuhan iman, ada tahap lahir, tumbuh, dewasa. Kita diangkat menjadi anak-anak Allah setelah kita mengalami proses kelahiran baru. (Sstt….!! ‘Keselamatan’ itu adalah pelajaran level satu kekristenan loh… saatnya kita tumbuh dan mengarah kepada kedewasan seperti Kristus – Ibr 6:1). Ketika kita baru lahir baru, rasanya apa saja yang kita doakan tokcer, jeng…jeng…jeng.. Tuhan langsung jawab. Ooo… so sweet, rasanya ikut Tuhan itu begitu indah. Ketika datang pencobaan, tinggal ngoeeekk… Tuhan langsung datang memberi pertolongan. Amazing!!

Hey, pernah liat bayi kecil yang baru lahir? Sebentar aja bayi ini nangis, sang ibu, dang ayah buru-buru datang menghampiri dia, segera member i pertolongan, apakah dia lapar? Atau sudah ngompol, minta diganti popok. Tetapi ketika dia tumbuh menjadi seorang anak, sedikit demi sedikit anak itu mulai diberi tanggung jawab. Saat anak ini nangis, mungkin oarng tuanya tidak segera datang lagi, ada orang tua yang justru marah, “hei diam!”. Ada juga reaksi orang tua yang memberi pengertian. Begitu juga dengan kekristenan kita, mungkin sekarang doa kita sepertinya tidak dijawab, mata sudah bengkak-bengkak menangis, tenggorokan kering, bibir pecah-pecah, panas dalam, oohh… tidaaakk... langit seperti membatu. Apakah saudara mengalami hal yang demikian, jangan kuatir bro n sis, I’m with you. Welcome!! We are grow up now. You can choose, better for you to grow up or only grow old?

Di dalam hubungan kita dengan Tuhan, Dia mau supaya kita menjadi seperti anak kecil, karena Tuhan mau kita tetap berada di bawah otoritasNya, bergantung penuh pada Tuhan. Ketika kita menempatkan diri seperti seorang anak, kita harus taat akan kehendak Tuhan. Bukan sekedar hanya menghormati Tuhan tetapi mengambil keputusan untuk taat kepadaNya. Untuk mengetahui kehendakNya kta perlu bergaul erat dengan Tuhan. Mazmur Daud berkata, “Selidikilah aku dan kenalilah batinku…” Maz 139. Dalam suatu hubungan kita harus saling menyelidik, membiarkan diri kita diselidiki dan berusaha untuk menyelidiki apa mau partner relation kita itu juga. Demikianlah hubungan kita dengan Tuhan juga. Menghormati dan mentaati Tuhan itu seharusnya wajib hukumnya, namun banyak orang kristen yang masih hanya menghormati saja, belum ke tahap taat. Marilah kita sama-sama belajar untuk hormat dan taat kepada Tuhan. (iyut)

Senin, 03 Agustus 2009

Share A Relationship (Indo)

Kita sering berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, biarlah hadiratMu nyata di tempat ini". Apakah hanya saya yg mengucapkan doa ini? Ya tentu saja ini doa yg bagus sekali.

Ketika Yesus Kristus dilahirkan ke dunia, Dia diberi nama "Immanuel". Nama ini juga yg telah dinubuatkan oleh para nabi sebelumnya. Kita tau, Immanuel berarti "Tuhan beserta kita". Jika ingin ditelusri arti katanya, kita akan menemukan bahwa Yesus dekat sekali dengan kita. Dia dapat diakses oleh semua orang yg mau dan percaya padaNya. Bahkan ketika kita menerima Dia sbgai Tuhan dan juruselamat, Dia ada di hati kita. Tuhan Yesus memulihkan atau membuat kita terhubung dengan Bapa kita di sorga.

Jika Tuhan Yesus adalah Immanuel, berarti hadiratNya selalu ada di sekitar kita. Walaupun kita ga berpuasa, kita ga baca alkitab kita, kita ga berdoa sejam sehari minimal, ataupun ketika kita ga sengaja jatuh dalam dosa, Dia tetap Immanuel bagi kita.

Hanya saja, betapa malangnya kita jika kita tidak berdoa, berarti kita tidak menghargai Kristus yg 'membangun' hubungan antara kita dan Bapa. Jika kita tidak baca alkitab, betapa malangnya kita, krn kita tdk bisa mengenal Tuhan lebih lagi, jika kita tdk mau berpuasa, kita kehilangan pengalaman2 rohani. Apalagi jika kita jatuh dalam dosa, sengaja pula, aduuuhhh!! Sayang sekali jika merusak hubungan Bapa dan manusia yg telah Kristus bangun.

Mengapa kita (atau mgkn hanya saya), kadang tidak bisa merasakan hadiratNya, seolah-olah saya merasakan suatu kondisi 'kurang rohani' atau di saat yg lain 'sangat rohani' dan akhirnya sombong rohani? Bagaimana cara merasakan hadirat Allah yg nyata bagi kita?

Ketika kita dapat merasakan dan menyadari kasih karunia Kristus besar bagi kita, di situlah kita merasakan hadirat Allah nyata bagi kita. So, jika kita berdoa "Tuhan, biarlah hadiratMu nyata, biarlah hadiratMu kami rasakan di tempat ini" (sambil bergetar dan penuh emosi), berarti kita berdoa, "Tuhan, biarlah kami sadar akan kasih karuniaMu yang besar bagi kami".

Tuhan Yesus datang ke dunia untuk membawa atau memperbaiki 'hubungan' yang rusak antara manusia dan Bapa di surga. Hal yang pertama diajarkan Tuhan kepada manusia adalah 'hubungan'. Hubungan kepada Bapa Sang Pencipta, hubungan kepada alam dan khususnya hubungan antar manusia. Sangat spesial, melalui tulang rusuk.

Dunia sangat membutuhkan yg namanya 'hubungan'. Dimana-mana kita temui, hubungan yg rusak antara ortu ke anak, suami istri, partner bisnis, tetangga, adik kakak. Kristus datang utk memulihkan hubungan yang rusak itu. Dunia mau membayar berapapun untuk mendapatkan 'relationship', cth: CRM (Customer Relationship Management), tool utk mengumpulkan info ttg customer.

Kedatangan Kristus pertama kali ke dunia sangat terencana, ga tiba-tiba, tetapi Allah hrs menyelesaikan rencana demi rencanaNya. Pertama kali manusia mengenal Allah Elohim, artinya Allah Pencipta. Ketika Enos dilahirkan manusia mengenal Allah dengan sebutan Yahwe, Allah Penyelamat. Kenapa hrs pada saat Enos lahir ya? Padahal Enos artinya sakit, (uupss... Lupa... Pokoknya temennya sakit deh... Peace:) ... ). Yesus ada ditengah krisis, sakit penyakit.

Sekarang, kita telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat, berarti kita telah memperoleh 'hubungan' kepada Bapa. Kita seharusnya membagikan 'hubungan' itu kepada dunia. Dunia haus akan 'hubungan'.

Orang yang minder, adalah krn kehilangan 'hubungan'. Ia tdk dpt mengutarakan isi hatinya, krn ada masalah dengan dirinya sendiri, bisa jadi hubungannya kepada org lain juga tdk terjalin.

Ketika kita menerima Kristus, kita ga sadar atau sadar keminderan kita itu berkurang sedikit demi sedikit, tergantung kita juga seberapa besar kita ijinkan Tuhan 'mengobrak-abrik' kekurangan kita.

Ketika kita menerima Kristus, otomatis kita menjadi anak Allah. Allah adalah pencipta (creator). Dia sangat kreatif. Berarti kita juga harus kreatif, harus pintar, hrs menjadi yg terbaik.

Jadilah terang... Biarlah org melihat 'perbuatan baikmu'. Dlm terjemahan lain, berarti 'kalos', diterjemahkan excellence, beautiful, berarti yg terbaik. Dlm segala pekerjaan kita, di market place, tempat kita bekerja, berikanlah yg terbaik. Biar org dunia melihat, 'itulah org kristen'. Itulah seharusnya dunia melihat org kristen. Jika sudah menarik perhatian org, semakin mudah utk menawarkan 'hubungan ke Bapa' itu. Jadilah yg terbaik!

10 Juli 09 @ Bandara Soekarno Hatta

Kamis, 09 Juli 2009

Share a Relationship

We always ask, "God we want Your presence be felt every one in this place". You know what is mean? That's mean we ask, "Let people realize Your grace real on them".

Do you remember this, when Christ was born in this world, He was named Immanuel, It's mean God with Us. So, it's mean when you believe in Christ as Your God, you shall be saved when you asked something by Christ, so Immanuel is always be with you. Although you felt in sin, although you were not read your bible or pray, He is always be with you.

But, how poor when you're not praying, you don't have a relationship with God. How poor when you are not read your bible, cause you don't know Him more. When you felt and felt again in sin, too realy poor you are, you broke a relationship with Our Father.

Jesus came in this world to brought 'a relationship'. He restore a broken relationship between God and you. He teach us how to build a great relationship not only with Father, but with this world too. We can build a relationship with ourself, with family, with neighbour, with our business' partner, our customer, our client, etc.

In a big company, there is a tool to manage customer, that's called CRM (Customer Relationship Management). CRM is a tool to collect information from one by one customers.

World so need a relationship. Jesus came to brought a relationship. We are now have a relationship with Father, why we are not share it to the world.

People feel inferior because of 'lack some relationship'. When people didn't feel secure and feel lost they meaning, they don't want to share theirself and then they so close to other people, and the end of the day, they lack some relationship. Therefore they feel inferior.

When we put trust in Christ, we've already became a child of God. We know in the first of time, we recognize God as Elohim, it's mean God as a creator. He is a creative God, right? So, when we became a child of God, we should be creatived too, right. It's mean we must be an excellence, we must be smart, there's no choice!

Bible said, "but be transformed by the renewal of your mind". Mind is physic, that's mean ideals and attitude. Ideals, we got it cause we learn, improve and upgrade our knowledge so we got some value. Attitude, we got from 'know' something and we use or we apply the 'value' in our life. Both are possiblely we shine the world.

"Be shine! Let the people see your good work". 'Good work' in Greek is 'kalos', which is translate excellence, beautiful. So, if you are son or daughter of God, you must realize, you must be a smart one, excellence in your work, all out! It must be possible. Do your work with responbility, excellence. Just do whatever your work like do it for God. Be a different generation, make some impact. All of our doing is for the glory of God, Christ Jesus.

Iyut

Senin, 06 Juli 2009

Siapa Orang di Belakangnya?

Siapa orang di Belakangnya?

Setiap pemerintahan suatu negara atau kerajaan tidaklah dapat berjalan single fighter bak selayaknya superman, tetapi selalu dibutuhkan super team. Raja memiliki para penasehat. Raja juga diawasi oleh senat atau klo di Indo dikenal dgn DPR. Seringkali raja hanya memilih dan memutuskan segala sesuatu (pilihan) yg telah disediakan oleh penasehatnya. Keberhasilan raja juga ditentukan oleh para penasehat, yaitu orang-orang di belakang raja. Kita akan melihat contoh berdasarkan beberapa fakta sejarah.

“Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil”. (2 Taw 26:5)

Uzia, dalam usia 16 tahun harus menggantikan ayahnya Amazia menjadi raja. Amazia adalah orang yang takut akan Allah. Uzia, dalam bimbingan nabi Zakharia, ia menjadi raja yang takut akan Allah, sehingga Tuhan membuatnya hidup makmur, ia merebut kota Elot dan membangunnya kembali. Dia mengalahkan Filistin, Arab dan Meunim. Namanya termasyur sampai ke Mesir. Menjadi petani dan peternak yang ulung, dan bla…bla…bla…. Tapi sayang, setelah Zakharia tidak ada, dan menjadi tinggi hati sampai berubah setia kepada Tuhan.

“Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN selama hidup imam Yoyada”. (2Taw 24:2)

Yoas berusia 7 tahun ketika diangkat menjadi raja. Yoas juga mempunyai mentor yang mengajarinya takut akan Tuhan, sehingga dia berkenan di hadapan Tuhan. Dalam masa pemerintahannya, ia membangun rumah Tuhan. Sayang sekali, ketika imam Yoyada mati, mereka kembali menyembah berhala.

Kisah-kisah seorang raja, tidaklah hanya ditentukan oleh raja itu sendiri tetapi juga kepada orang-orang dibelakangnya. Daud juga punya seorang penasehat yang sangat dipercayainya. Sangkin dipercayai, nasihatnya disetarakan dengan nasehat Allah sendiri (2 Sam 16:23). Kesuksesan seorang raja selalu bergantung kepada orang-orang dibalik pemerintahannya itu.

Raja Nero (54 M – 68 M) menjadi raja ketika umur 17 thn, pada dasarnya adalah seorang yang pemalu dan penakut. Namun para penasehatnyalah yang membentuk dia menjadi seorang raja yang bengis. Salah satu nasehat Seneca, “Seorang Kaisar boleh melakukan apa saja, boleh berbohong, curang dan jika terpaksa membunuh …. Berkuasalah bagai dewa”. Bukan hanya penasehatnya yang mengajarinya menjadi makhluk bengis, namun istrinya juga, Poppaea. Dan akhirnya bukan saja orang tuanya yg berakhir di tangannya, istrinya juga. Dan diprediksikan Rasul Petrus disalib terbalik dan Rasul Paulus (kemungkinan 67 M di Efesus) dipenggal oleh Nero. Nero juga melakukan pembantaian terhadap kaum bangsawan dan orang-orang kaya di Senat dan mengambil warisan yang mereka tinggalkan (64 M – 68 M).

Zaman Tuhan Yesus (kira-kira periode 5 SM – 30 M) adalah ketika dipimpin oleh Kaisar Tiberius (14 M – 37 M). Kaisar Tiberius adalah kaisar yang membela rakyat jajahannya. Namun tidak sepemikiran dengan para kaum bangsawan dan Senator, visi kaisar tidak dapat dijalankan. Kaisar bahkan ingin membebaskan rakyat dari pajak (menurut dokumentasi BBC yang ditulis oleh DR. Peter Heater). Mungkin itulah sebabnya orang Farisi dan orang-orang Herodian menanyakan hal yang menjebak Yesus, “apa boleh bayar pajak ke kaisar?” (Mat 22:17). Penjajahan Roma terhadap Judea, membuat orang Farisi ingin mempertahankan keoriginalan mereka dan menekan orang lain.

Teman-teman rekan muda, sebentar lagi pemilu tiba. Kita harus menggunakan hak pilih kita. Contoh-contoh di atas memberikan kita referensi untuk mengurangi kebingungan kita. Tentu saja kita harus berdoa dulu dan minta hikmat Tuhan. Saya berharap, kita tidak dtg ke TPS dengan 'blank' dan berharap tiba2 Tuhan berbicara harus pilih apa. Kita harus mempersiapkan pilihan kita juga. Kita bisa menganalisa dan memperhatikan nasihat orang2 yg dpt kita percayai. (Bukan berarti kita terpaksa ikut memilih pilihan mereka)

Elisa adalah seorang nabi, ketika ia tinggal di rumah perempuan kaya Sunem, ia kagum akan kebaikan perempuan ini, sehingga ia ingin membalas jasa. Elisa minta tolong kepada Gehazi utk cari tau apa yang dibutuhkan perempuan ini. Dalam pikiran saya, bukankah Elisa nabi Tuhan, kenapa ga nanya aja ke Tuhan. Toh nanti Elisa juga memohonkan doa utk perempuan ini. Elisa butuh info dari Gehazi, bujangnya itu. (2 Raj 4:14)

Gunakanlah info yg kita dapat dgn tepat. Sebagai referensi, lihat juga siapa orang yang ada di belakang orang yang kita pilih, karna seringkali ide dari para penasehat lebih sering digunakan.

“Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini”. (Amsal 21:1). “Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia…” (Ezra1:1). “Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga ia menyemarakkan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem,” (Ezra 7:27).

Tuhan dapat mengubahkan hati raja. Hati raja ada di dalam tanganNya. Melalui doa dan permohonan anak-anak Tuhan, pastilah Tuhan mau menggerakkan hati raja. Itulah sebabnya kita harus mendoakan pemerintah kita, sebab tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tanpa rakyat runtuhlah pemerintah (Amsal 14:28). Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah (Roma 13:1). Pemerintah adalah hamba Allah (Roma 1:4). Kita harus tunduk kepada pemerintah (Tit 3:1).

Membaca ayat2 ttg pemerintah di atas, bukan berarti kita hanya "berserah" alias masa bodoh. Tuhan memang bisa menggerakkan hati raja, tetapi karena ada org benar yang memintanya. Ingat, kita harus tunduk kepada pemerintah. So pilihlah sesuai dengan hati nurani.

Berdoalah supaya keadilan bisa ditegakkan di bangsa ini. Berdoalah supaya kita anak2 Tuhan tetap bisa beribadah kepada Tuhan, kendatipun kita tau akan datang masa2 sukar bagi anak-anak Tuhan. Sekiranya itu terjadi, biar doamu menyelamatkan dirimu sendiri spt Abraham. Tuhan Yesus memberkati.

Selamat memilih!!!