Selasa, 15 Juni 2010

Belajar Mendengar

Yak 1

Mendengar adalah memberikan telinga kita dan pikiran kita beserta indra pendukung lain untuk org lain. Tujuannya adalah menyamakan persepsi, mengerti apa maksud dan tujuan si pembicara. Jika persepsi si pendengar dan si pembicara sama, maka masing-masing kebutuhan dapat dipuaskan.

Mendengar bukan pekerjaan mudah. Walaupun secara kita tau telinga dah nyantel sejak kita tercipta menjadi wujud manusia, namun utk mendengar dibutuhkan konsentrasi dan kemauan utk mendengar. Banyak bunyi (yg frekuensinya dpt ditangkap manusia), namun tdk semua bunyi kita butuhkan. Mendengar Firman Tuhan juga dibutuhkan konsentrasi. Jika kita setuju dengan sang pembicara, kita melakukan sesuai dengan persepsinya tersebut. Masalahnya tidak semua perkataan si pengkotbah mau kita dengarkan, hasilnya kita kehilangan pesan Tuhan untuk kita.

GLOWers, kita butuh belajar mendengar FirTu, baik yg dikotbahkan ataupun yg langsung kita dengar dari Tuhan. Sekian lama kita hidup menjadi org kristen, berapa banyak FirTu yg sudah kamu dengar dan lakukan. Sekian lama kita berdoa, pernahkah kita mendengar suaraNya langsung, sebagai respon komunikasi kita denganNya? Mintalah kepada Tuhan supaya kamu bisa mendengarkan suaraNya. Tetap setia mendengarkan Dia, dimanapun kita berada saat Dia ingin berbicara.

Kehormatan

"Mahkota orang tua adalah anak, kehormatan anak adalah moyangnya"

Generasi ini banyak mengeluh akan keadaan zamannya. Anak2 terang juga terkontaminasi oleh pergaulan. Yukk anak2 terang bangkit, menempati tempatmu yg sesungguhnya, menjalankan valuemu yg sesungghuhnya.

Anak2 terang harus bisa hidup menghormati generasi sebelumnya. Siapa yg tdk bisa menghormati ortunya, generasi sebelumnya berarti menghancurkan kehormatannya sendiri. Menghancurkan diri sendiri berarti menghancurkan bangsanya sendiri.

Glowers, memang banyak hal tidak enak datang kepada kita sebagai anak2 terang. Namun itu adalah sebuah konsekuensi menjadi kepala bukan ekor. Kamu adalah pemimpin di generasimu ini. Jadilah yg terbaik maka org2 yg mengikutimu menjadi baik juga, sehingga bangsa ini menjadi bgs yg baik juga. Hormatilah pejuang2, org tua, generasi sebelum kamu, jgn sesali n frustasi akan kesalahan yg mereka wariskan, tetapi mengucap syukur sambil memperbaikinya.

Senin, 05 April 2010

Diperlengkapi untuk diutus

“Terimalah Roh Kudus” Yoh 20:22

Ketika Tuhan Yesus berada di antara murid-murid sesudah Ia bangkit, tiba-tiba murid-murid sadar akan kehadiranNya dan menyembah Dia dalam kekaguman. Kemudian Yesus menunjukkan tangan dan lambungNya dan murid-murid sangat bersukacita akan hal itu. Sebelum mereka membawa berita sukacita ini kepada saudara-saudara yang lain, di tengah keriuhan reunian ini, Yesus mengembuskan Roh Kudus kepada murid-murid.

Dalam bahasa Inggris disebut, “receive ye the Holy Ghost”. Yesus mengembuskan source of influence, supaya murid-murid dapat menjadi leader dimanapun mereka berada. (Salah satu syarat leader adalah mempunyai pengaruh/ influence). Kata “terimalah”, berarti mengandung makna perintah, dan pihak lain harus menanggapi untuk atau mengambil tindakan untuk “mengambil”.

GLOWers, Ul 28:13 berkata “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan ekor”, tetapi ini tidak otomatis, ada syaratnya, hanya jika kita mendengarkan dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Jika kita bersedia, Tuhan akan memperlengkapi kita dengan Roh Kudus untuk kita diutus menjadi leader untuk dunia ini, untuk sekolahmu, untuk kampusmu, untuk keluargamu, untuk market place.

All Hail!

“Salam bagimu” Mat 28:9
“Damai sejahtera bagimu” Yoh 20:21

Sesudah Yesus bangkit dari kubur, Ia menampakkan diri beberapa kali kepada murid-muridNya dengan cara yang unik dan berbeda. Suatu ketika Yesus dalam tubuh kemuliaan yang tak terbatasi oleh ruang tiba-tiba berada di antara kesebelas murid dan menyampaikan pesan penting “Salam bagimu” atau “ Damai sejahtera bagimu”, atau dalam terjemahan lain, “shalom”.

Pesan ini berarti supaya penerima pesan bersukacita dan mempunyai damai sejahtera. Damai sejahtera yang dimaksud adalah hidup dalam keadaan selamat, sehat, berkelimpahan dan makmur. Tuhan Yesus telah bangkit dari kubur mengalahkan maut supaya kita dapat menikmati sukacita, keselamatan, kesehatan, kelimpahan dan kemakmuran.

Temans, Tuhan Yesus bangkit membawa pesan damai sejahtera buat kita, terimalah kuasa kebangkitan Yesus supaya kita mengerti bagaimana cara memperoleh/ mengusahakan damai sejahtera kita (Luk 19:42). Damai Sejahtera itu sudah diberikan, ada ditengah kita namun adalah keputusan kita untuk menerimanya atau tidak, karena salam itu dapat kembali jika tidak diterima (Luk 10:6).
(R'Tom)

Kamis, 01 April 2010

Sudah Selesai!

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Yoh 19:30
Di atas kayu salib, sebelum Yesus menyerahkan nyawaNya kepada Bapa, Yesus mengatakan “sudah selesai”. Apa yang sudah selesai? Dalam bahasa Inggris (dalam beberapa terjemahan spt KJV, NIV, RV, NASB), “It’s finished”. Dalam terjemahan LITV ditulis, “It has been finished”, yang menunjukkan Yesus benar-benar yakin berkata, “baru saja selesai”. Terjemahan NET mengatakan, “It’s completed”. Dalam bahasa Greek “teleo”, berasal dari “teleios” yang berarti mencapai akhir, tujuan.
Mengapa Yesus berkata “It’s finished”, mengapa bukan “I am finished”, bukankah nyawaNya terputus setelah itu? Perhatikan di sini, “it” adalah kata benda, yang berarti di sini adalah tugas/ pekerjaan/ tanggung jawab. Kata “finished” menerangkan “it”. Saya kagum dengan Yesus. Dia yakin betul bahwa semua tugas yang harus dilakukanNya sudah benar-benar selesai. Banyak orang yang cepat masuk liang kubur tanpa yakin telah benar- benar menyelesaikan tugasnya di bumi. Bukan hanya itu, orang yang masih hidup pun tidak begitu yakin apakah ia melakukan ‘pekerjaan’/ ‘tanggung jawab’ yang seharusnya ia kerjakan di bumi.
Ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, Dia berfirman dan semuanya itu jadi. Tetapi ketika Tuhan berfirman “beranak cuculah dan bertambah banyak…”, firman ini tidak langsung menjadi kenyataan. Ketika Tuhan menciptakan Adam, Ia menghembuskan nafas hidup untuk Adam. Ada potensi Allah yang dititpkan Allah untuk manusia. Potensi yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia tidaklah sama. Potensi itu seperti benih yang Tuhan tabur, kita manusia adalah tanahnya dan Tuhan juga yang memberikan hujan, Tuhan yang memberi pertumbuhan tetapi kita lah yang harus mengusahakan tanah itu (Kej 2:5).
Dalam Matius 5:48 “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.". Kata “sempurna” di sini menggunakan kata “teleios” yang juga berarti komplit, full-grown alias dewasa. Memang benar hanya Tuhan yang sempurna, tetapi Tuhan menginginkan kita untuk menjadi sempurna/ dewasa. Orang yang dewasa dapat menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan padanya, orang yang dewasa dapat menemukan tujuan hidupnya dan orang yang dewasa “wanting in nothing”.
Temans, jangan sia-siakan hidupmu. Potensi apapun yang Tuhan titipkan kepada dirimu, kerjakanlah itu. Kita yakin Tuhan beserta kita, just do it, do your best. Ingat “langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya” (1 Sam 2:9). TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya (Mzm 37:23). Hanya orang yang ‘melangkah’ yang akan diberkati, bukan orang yang diam statis. Jadilah terang (kalos = excellent), sampai ajal menjemput, kita dapat berkata “it’s finished”. Happy Passover. GBU.

Jumat, 08 Januari 2010

Talenta

TALENTA
Mat 25:14-30

Apakah talenta itu? Talenta adalah ukuran timbangan di Timur Tengah, pada zaman alkitab sebesar 3000 syikal (sekitar 34 kilogram). Dalam Perjanjian Baru, 1 talenta merupakan ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu 6000 dinar. Satu dinar adalah upah pekerja (kebun anggur) dalam sehari (Mat 20:2).

Setiap hari kita diperhadapkan dengan keuntungan vs resiko, kemalasan vs kemiskinan, kerajinan vs kekayaan, keberuntungan vs kesialan. Bahkan hari sial juga diijinkan Tuhan unruk terjadi. Setiap hari kita harus mengambil keputusan apa yang harus kita lakukan dalam seharian itu. Bahkan hal mood baik atau mood buruk juga kita yang tentukan. Itulah bagian yang menjadi tanggung jawab kita setelah Tuhan telah melakukan bagiannya untuk kita. Setiap Firman Tuhan yang Tuhan berikan selalu melibatkan ‘apa yang akan Tuhan lakukan bagi kita’ dan ‘apa yang harus kita lakukan’.

Setiap orang telah Tuhan titipkan ‘modal dasar’ untuk menjalankan hidupnya, dapat berupa bakat, kemampuan, talenta, apakah seseorang itu pandai bicara, apakah seseorang itu jago dalam hal berpikir, berhitung, membuat konsep, pekerja bahkan hanya ahli dalam hal bermimpi. Setiap orang diberikan ‘seed of greatness’ yang berbeda-beda. Jika hal ini dapat kita sadari di dalam suatu keluarga, komunitas, perusahaan ataupun gereja, perbedaan seperti ini adalah kekuatan yang luar biasa. Setiap orang mempunyai bagiannya sendiri-sendiri. Tidak semuanya bisa berbicara kepada orang seperti layaknya sales, penginjil, tetapi ada orang yang yang hanya membuat konsep. Bagi dirinya berpikir adalah suatu pekerjaan. Di dalam gereja ada yang mengkhususkan diri hanya sebagai pembrita Firman Tuhan (Kis 6:2), ada yang hanya sebagai pelayan meja, langsung terjun ke masyarakat atau jemaat. Tentu saja semua itu Tuhan jadikan untuk kebaikan.

Rasanya tidak adil, jika orang tua hanya menganggap pintar seorang anak yang jago matematika saja. Tidak adil juga bagi seorang anak yang suka bicara dianggap nakal. Seorang guru di sekolah menganggap anak yang kinestetik itu nakal, bukankah itu aneh? Padahal setiap orang tua pernah berdoa agar Tuhan memberikan anak yang terbaik yang akan dia lahirkan di keluarganya. Ini semua hanya tergantung dengan bagaimana kita mengelola berkat Tuhan, yang kita minta sebagai “yang terbaik” dari Tuhan. So do not complain.

Kembali kepada talenta. 1 Talenta = 6000 dinar. Dan 1 dinar adalah upah minimum regionalnya (karena upah ini diberikan kepada pekerja kebun anggur). Kita akan berbicara tentang UMR (Upah Minimum Regional). Misalnya saja di Indonesia, Jakarta, ada orang yang menghitung (berdasarkan harga minyak dunia) Rp 900.560/ bulan, katakana saja Rp 30.000/ hari. Mari kita berhitung…. Mari kita lihat mengapa seorang tuan yang menitipkan talenta kepada hamba-hambanya itu marah ketika mendapati seorang yang dititipkan 1 (satu) talenta itu tidak mengelola talenta/ uang tersebut. Sebegitu kejamkah tuan itu? Jika tuan itu dianalogikan sebagai Tuhan, sekejam itukah Tuhan?
Uang yang dititipkan itu jika diberikan kepada orang Indonesia,
• Untuk yang satu talenta:
1 talenta x 6000 hari kerja x Rp 30.000 = Rp 180.000.000
• Untuk yang dua talenta:
2 talenta x 6000 hari kerja x Rp 30.000 = Rp 360.000.000
• Untuk yang 5 talenta:
5 talenta x 6000 hari kerja x Rp 30.000 = Rp 900.000.000

Wow… banyak yaaa!! Bisa kita bayangkan uang sebegitu banyak, Rp 180 juta hanya disimpan di bank, belum lagi kalau banknya diliquidasi, habislah. Pernahkah kita mempunyai mimpi menjadi produsen bukan konsumen? Pernahkahn kita berpikir untuk melakukan sesuatu untuk Negara ini, tidak hanya numpang menerima subsidi saja, tetapi bisa menjadi berkat menjadi bangsa ini? Seharusnya orang Kristen dapat ‘mencipta’ bukan hanya menikmati hasil ‘cipta’ orang lain. Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan Allah yang kreatif, seharusnya kita yang percaya kepadaNya juga dapat melakukan hal-hal yang besar bersamaNya, memakai namaNya yang ajaib dan menjadi luar biasa bersama denganNya. Seperti wajar Tuhan marah kepada hamba yang malas itu.

Ingat, Tuhan menitipkan ‘benih’ yang luar biasa itu di dalam diri kita. Alkitab mengatakan iman sebiji sesawi atau biji sawi dapat memindah gunung. Asalkan iman itu disiramin, diberi makan dan diberi lahan yang baik untuk bertumbuh. Bagaimana jika kita adalah biji sawi itu? Bukankah kita perlu disirami, kita perlu lahan yang subur, kita perlu nasihat-nasihat, kita perlu didikan, siraman rohani dan jasmani, terutama kita butuh makanan. Tanpa makanan kita tidak dapat ikut dalam pengalaman rohani juga.

Bukan hanya itu saja Dia beserta dengan kita. Tuhan melihat kita dalam segala kesukaran kita (Mark 6:48). Ia akan sengaja melewati kita untuk memastikan kita dalam keadaan baik-baik saja, walaupun Dia tau betapa ahlinya kita melakukan pekerjaan kita itu. Padahal dalam peristiwa sebelumnya di Mark 4:39-40, Yesus sudah mentraining mereka -- para murid, setidaknya Yesus sudah mengajari bagaimana cara mereka menghadapi badai di saat mereka para professional kelautan sudah menyerah, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”.

Kemudian pada peristiwa angin sakal berikutnya, Yesus yakin bahwa mereka pasti bisa melewati angin sakal itu, karena mereka sangat professional dan juga mereka sudah ditraining sebelumnya. Namun demikian, Yesus tetap mengechek keadaan mereka apakah mereka baik-baik saja menghadapi angin sakal? Haha… sayangnya mereka gagal karena tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal Yesus, bukan karena menghadapi angin sakal. Mereka lolos menghadapi angin sakal, tapi gagal ketika ‘menganggap’ Yesus sebagai pribadi yang lain, Hantu. Tetaplah ingat Yesus dalam keberhasilan kita, kenalilah Tuhan kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita sekalipun Dia tau kita sangat professional di bidang kita, sekalipun kita berada pada tempat dan waktu yang tepat.

Kembali ke hal talenta. Di dalam Matius 18:21-35. Ada kisah dua orang hamba yang berhutang, yang satu berhutang 10.000 talenta. Dan yang satu berhutang 100 dinar saja. Perbandingannya 1:600.000. Mari kita lihat perbadingannya, seandainya kasus ini terjadi di Indonesia:
• 10.000 x 6000 = 60.000.000 dinar atau 60.000.000 hari kerja atau 164.384 tahun. Jika seandainya 1 (satu) generasi – jarak umur antara orang tua dengan anak adalah 30 tahun, maka ada 5.479 generasi yang harus bekerja kepada tuannya, masing-masing 15 tahun. Atau jika hamba tersebut mempunyai anak 10 saja dalam tiap generasi, maka hutangnya dapat selesai dalam 16 tahunan, tiap orang dalam 4 generasi harus bekerja pada tuannya paling tidak 16 tahun, itupun harus setiap hari kerja. (Hitungannya 164.384 tahun/ 104 = 16,4384 tahun). Atau si hamba ini harus memproduksi lebih banyak anak, supaya hutangnya bias cepat lunas. HUtang apakah dia ini sampai 60.000.000 x Rp 30.000 = Rp 1.800.000.000.000. Wew… ini hutang Negara atau organisasi euy. Atau si Hamba ini hutang judi kah? Tapi ajaibnya… Sang Tuan membebaskan hamba tersebut dari hutang 4 generasi itu. Whattt???? Lohh.. koq enak yaa?
• Hamba dari Hamba dari tuan yang membebaskan hutang itu punya hutang 100 dinar saja, alias 100 hari kerja. Hanya 100 hari kerja, kira-kira 4 bulan saja (1 bulan = 25 hari kerja). Tetapi si hamba yang baru dibebaskan dari hutang ini memasukkan hambanya dalam penjara. Oo.. bagaimana bias melunaskan hutang bila dipenjara? Bagaimana bisa bekerja? Bukankah artinya si hamba yang jahat ini dendam sama sekali dan tidak mau membebaskan hambanya yang berhutang hanya 100 dinar itu? Yahh sekitar Rp 30.000 x 100 = Rp 3.000.000 doang.

Perumpamaan ini tentang pengampunan. Pengampunan lebih bermanfaat untuk si pemberi pengampunan dibandingkan dengan yang diberi pengampunan. Jika tidak mengampuni maka para tormentor akan menyiksa sehingga makin buruklah keadaan orang yang tidak mengampuni itu.

Back to talenta again…. Saya bicara kepada temen-temen remaja/ pemuda, “heyy… seandainya bokap lo ngasih uang Rp 180 juta, mau lo apain? Lo tega hanya nyimpen di bank, atau mulai berpikir bagaimana cara menghabiskannya? Heyy.. young people be smart!!”. Selama 16 tahun minimal nih (6000 hari kerja/365 = 16,4 tahun) kita tinggal gratis di rumah Bapak kita, tanpa bekerja. Tanggung jawab kita hanya sekolah doang. Apakah 16 tahunnya dimulai dari kita masuk SD kah, atau mulai kita lahir kah, tergantung dari anugrah pada masing-masing pribadi. Itu hanya minimal. Anak-anak Tuhan tidak dibiarkan minta-minta roti. Roti untuk dimakan. FT tidak bilang berlian/ emas/ mobil Ferrari/ BMW lohhh, tapi roti. Minimal Tuhan menyediakan makanan untuk dimakan, tidak harus makan mewah, tetapi makanan saja. Kalau mau makan mewah ya harus berusaha lebih. Hehe...

Temen-temenku yang sudah bekerja, apakah kita tidak berpikir untuk membangun bangsa ini. Ini zamannya kita, generasi kita, bangsa ini ada di tangan kita. Jangan lupa utang bangsa juga dibebankan kepada generasi kita. Bagaimanakah kita mengelola ‘Rp 180 juta’ yang diberikan kepada kita? Let’s we think smart. We can do it. Yukz kita ber-entrepreneur ria, menyediakan lapangan kerja, bukan hanya kerja di lapangan kerja yang sudah tersedia. Kita anak-anak Tuhan, pastinya kita juga dititipkan gen kreatif, karena kita kita mempunyai Tuhan yang kreatif. He is Elohim, God is creator.

Bagaimana cara mengelola ‘Rp 180 juta’ itu tergantung pada ‘seed of greatness’ kita masing-masing. Pastinya berbeda satu sama lain. Ada yang jago di satu bidang, dan lemah di bidang yang lain. Ada yang jago ngomong, cocok jadi sales. Ada yang jago berpikir, analisa cocok pada pekerjaan laboratorium, dll. Yuk kita berkreasi, lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan sehingga kita dapat melakukan yang terbaik. Lakukan saja apa yang kita senangi, senangi apa yang kita kerjakan.

“Bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah Dia beri, Jangan complain terhadap apa yang tidak Tuhan beri”.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Waktunya vs WaktuNya

Pepatah mengatakan “indah pada waktunya”. Bertahun-tahun saya berpikir arti dari pepatah ini adalah segalasesuatunyanya terjadi atas kehendak Tuhan. Bertahun-tahun saya hanya mendengar pepatah ini tanpa memperhatikan sumber dimana tulisan ini dituliskan. Ketika saya benar-benar membaca di sumber tulisan ini dituliskan, kata ’nya’ pada ‘waktunya’, bukan menunjukkan kepemilikan Tuhan, tetapi untuk manusia atau benda tertentu. Pikiran saya masih berdalih, “akh… sepertinya salah tulis”, namun hati saya tidak sejalan, “tidak ada yang salah dengan penulisan ini”. Pepatah ini benar adanya.

Setiap benda ataupun manusia mempunyai life time tertentu. Setiap benda elektronik dapat dihitung life timenya, bias dihitung dari data yang tercatat di book sheetnya, ditambah data lama pemakaian. Hidup manusia juga dapat dihitung menurut pola hidup yang dilakukannya (note: perhitungannya minus kasih karunia ya). Ada website yang dspat menghitung umur anda, tujuannya adalah agar Anda dapat memperhatikan pola hidupmu, check it out http://www.deathclock.com/. Jika Anda tidak memperhatikan signing tersebut, maka perhitungan tersebut bisa saja tepat. Ini bukan ramalan bintang, tapi logika.

WaktuNya

Bicara soal waktu Tuhan, bahwa Allah itu dapat menginterfensi hidup manusia itu. Kapan saja, dimana saja, tidak ada yang pernah tau. Ada bagian Alkitab yang menjelaskan pada kita, bahwa Tuhan bersembunyi di awan gelap. Tuhan senang ditemui di tempat persembunyianNya. Tetapi menurut ‘waktuNya’, Dia akan keluar dari awan gelap dan menyatakan kemuliaanNya. Seringkali Tuhan mempercepat ‘waktunya’ itu. Artinya Tuhan menginterfensi hidup manusia itu. Dia tau jika ‘waktunya’ tidak dipercepat, maka akan lebih banyak penderitaan/ kerusakan yang dialami manusia tersebut. Dia tau manusia tidak sanggup melaluinya sendiri, oleh sebab itu Dia mempercepat ‘waktunya’ dengan menginterfensinya menjadi ‘waktuNya’. ‘WaktuNya’ juga sering digunakan kata ‘harinya Tuhan’, the day of The lord, yaitu waktu tertentu saat Dia menyatakan diriNya.

Waktunya

Untuk segala sesuatunya di muka bumi ada waktunya. “there is appointed time”. Tuhan sudah menciptakan waktu. Bahkan di dalam hidup manusia juga dititipkan signing waktu, ‘time clock’ manusia, yaitu jantung. Menurut detak ‘clock’ ini semua system informasi tubuh manusia ini diatur. Ada waktu untuk makan, ada waktu mengunyah dibantu oleh enzim air liur, ada waktu untuk penyerapan, ada waktu untuk mencerna, ada waktu untu pembuangan zat sisa. Prosses ini kita kenal sebagai metabolism tubuh. Jika life time manusia ini telah selesai, time clock jantung juga berhenti, manusia mati.

Seorang anak yang lahir harus tumbuh. Ketika berusia 9 bulan, jika anak tidak bisa berjalan, orang tua akan kalang kabut. Pada usia 2 tahun, anak belum bisa bicara, orang tuanya juga kalang kabut. Usia 5-6 tahun, seorang anak harus masuk sekolah dasar, dst. Jika anak tersebut pada waktunya seharusnya sudah tamat sekolah, tetapi ia tidak mencapainya, ia sudah kehilangan momennya waktunya.

Tuhan Yesus pernah mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Mat 11:33). Memang saat itu belum ‘waktunya’ (kairos) untuk berbuah, namun, pohon tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbuah sama sekali. Ada akibat jika tidak mencapai ‘waktunya’. Di dalam bagian lain alkitab (Ibr 5:12), ada ayat yang mengatakan, ”ditinjau dari sudut waktu (chronos), sudah seharusnya menjadi pengajar”.

Ada dua jenis waktu, yaitu kairos dan chronos. Kairos adalah waktu pencapaian, periode kualitatif, ditandai oleh pengaruh atau prevalansi dari sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari yang kita kenal sebagai quality time, waktu cuplik, sebentar saja. Menurut arti kamusnya (http://www.kypros.org/cgi-bin/lexicon), yaitu time, wheather. Chronos adalah waktu kuantitatif, periode yang dapat diukur dengan benda-benda dan peristiwa dan menunjukkan berlalunya saat. Menurut arti kamusnya, tense, tenure, time). Contohnya: ‘sudah sekian lama’, Mark 9:21, dll.

Jangan sampai kita kehilangan ‘waktunya’, kitalah yang harus mengatur bagaimana kita harus hidup. Ketika kita percaya pada janji Tuhan, janji itu punya waktu untuk sampai kepada penggenapannya. Alkitab berkata “apabila sudah datang waktunya (kairos), kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:9). Berarti kita bisa kehilangan momennya. Banyak orang kehilangan momen menikmati janji Tuhan. Ada yang seharusnya sudah (waktunya-kairos) mendapatkan berkat besar, namun berkat itu tertahan, atau berkat itu tidak jadi datang. Padahal Tuhan sudah mempersiapkan berkat yang seharusnya menjadi milik kita itu. Namun ketika waktunya tiba, kita kurang kualify untuk menerima berkat itu, maka lewatlah kairos kita itu. Wow.. sayang sekali ya… Come on my friend, jangan biarkan momen indah bin luar biasa itu terlewat saja di depan hidungmu, raihlah berkatmu, tetap kuat dalam Tuhan, Dia pasti memberi kekuatan. Jangan pernah harapkan mujizat jika kamu tidak mau melangkah. Tuhan memberkati “langkah-langkah orang”, artinya hanya orang yg melangkah, bukan duduk diam menunggu. Memang ada waktunya kita berdoa, menunggu hadirat Tuhan, tetapi tidak layak kalau kita hanya berdiam diri saja. Ada yang menjadi bagian Tuhan (kewajiban), ada yang harus kita kerjakan (kewajiban kita). Kita bukan managernya Tuhan, Dialah manager kita, seharusnya kita yang lebih banyak bekerja. Come on jangan jadi Kristen manja yang hanya mengharapkan mujizat, tanpa mau dibentuk jadi dewasa.

Begitu berharganya waktu. Kej 1:5 Tuhan menciptakan waktu. Setelah menciptakan terang, maka waktu juga diciptakan. Waktu berfungsi untuk membantu mengatur segala sesuatu, sebagai penanda. Semua yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah untuk dikelola dengan baik, termasuk waktu. Jika kita tidak mengatur waktu, sudah pasti kita yang akan diatur olehnya. Kitalah yang seharusnya me-manage waktu, bukan waktu yang mengatur kita. Bagaimana mungkin orang berkata “akh.. aku tidak punya waktu”. Mungkin lebih tepatnya adalah, “maaf, saya belum bisa mengatur waktu saya”. Semua manusia diberikan waktu oleh Tuhan 24 jam saja. Aturlah waktu dengan baik, waktu untuk berdoa, waktu untuk berbincang dengan keluarga, waktu beribadah kepada Tuhan, waktu untuk bermain, waktu untuk istirahat. Bahkan Tuhan juga sangat menghargai waktu tidur kita. Tidur juga idenya Tuhan. Pada waktu tidurlah kita diberkatinya. Semuanya mempunyai porsi masing-masing, yang tidak boleh dihilangkan salah satunya pun. “Selamat mengatur waktu, jangan sampai kehilangan momen”.