Senin
11 April 2011
“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala..”(Matius 9:36)
Bacaan:
Matius 9:35-37
Ada seorang wanita yang setiap harinya berkeliling kota di India memungut orang-orang yang dibuang orangtuanya, dibuang keluarga karena sakit, dikucilkan masyarakat dan lain-lain. Nama wanita itu adalah Bunda Theresia. Dia membaktikan hidupnya untuk merawat orang-orang yang ditelantarkan di India hingga Ia dipanggil pulang Bapa ke Sorga. Ia mendapat Nobel karena jasa kemanusiaannya itu. Pertanyaanya mengapa ia mau melakukan hal itu? Mungkin pertanyaan itu juga bisa pertanyakan mengapa Yesus mau melayani manusia? Johanes 3:16 mengatakan, karena cinta!!
Cinta adalah peninggalan dunia ini yang paling berharga. Cinta membuat pengharapan. Pengharapan mengasilkan ketabahan dan kekuatan. Harapan dan cinta tidak bisa dipisahkan. Cinta yang dilimiliki Allah membuat kita menjadi mungkin untuk hidup selamanya. Demikian juga dengan kita. lihatlah di sekeliling kita. banyak orang kehilangan harapan. Hamper di setiap sudut Kota Medan ada pengemis dan pengamen kecil. Perkelahian antar pelajar meningkat, anak remaja lebih menyukai komunitas yang berbau kekerasan. Hiburan malam dijadikan saranan untuk mencari kesengangan. Apa yang bisa kita perbuat setelah kita menerima cinta atas pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib dengan diperhadapkan dengan sekitar kita ini. Dimana-mana orang sedang dilanda “kelaparan”. Kelaparan akan cinta, kasih sayang, penghargaan, perlindungan, memiliki dan banyak lagi rasa lapar.
Glowers, perhatikanlah sekitarmu. Cobalah berhenti untuk minta didengar. Dengarkanlah temanmu, keluargamu, lingkunganmu. Mereka butuh dukunganmu, cintamu, dan kata-kata yang memberi pengharapan. Bisa saja kita tidak bisa berbicara. Dengan menyapa. Dengan hadir di samping mereka dan banyak hal lagi yang bisa kita pikirkan. Mereka perlukan kasih Tuhan Yesus melalui kita. hope for the hopeless (Hendra)
Senin, 11 April 2011
Kenapa iri?
Minggu
10 April 2011
“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,...” Kej 1:26
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kej 1:31
Bacaan:
Kej 1
Pernahkah kamu berpikir ingin menjadi seperti orang lain? Atau berpikir koq gw ga punya kemampuan seperti dia ya? Atau mengatakan “nah itu dia kelemahan gw”. “ah... gw hanya...”. Kita seringkali ingin yang ada di ‘tangan’ orang lain. Kita kurang memperhatikan siapa kita sebagai ciptaan tertinggi dari Tuhan.
Tahukah kamu bahwa Tuhan menciptakanmu dengan sempurna? Ketika Tuhan baru saja selesai menciptakan manusia, Ia mengungkapkan suatu kepuasan, “.. sungguh amat baik”. Dan sebelum Ia menciptakan manusia, Tuhan terlebih dahulu merancangkannya. Ada pola yang diambil Tuhan sendiri, yaitu gambar dan rupa-Nya. Sangat berbeda saat Tuhan akan menciptakan langit dan bumi serta isinya. Jika Tuhan mengatakan “sungguh amat baik”, berarti Ia tidak menciptakan manusia dengan kekuatan dan kelemahan. Sesungguhnya tidak ada kelemahan, yang ada hanya ada kekuatan saja.
GLOWers, pernahkah kamu melukiskan dirimu dengan sejumlah daftar kelemahan. “aku lemah di bidang ini..”, “ah... itu kelemahanku”, dan yang paling parah “kelebihanku adalah penuh dengan kelemahan”. Sesungguhnya Tuhan menaruhkan kekuatan atau kelebihan yang berbeda di setiap kita. Hanya saja manusia lebih fokus kepada kelemahan daripada kekuatan/ kelebihannya itu, dan menginginkan menjadi seperti orang lain,alias iri terhadap orang lain. Mari kita melihat diri kita sendiri, apa yang menjadi kekuatan kita? Mari kita fokus dan tingkatkan kekuatan kita. (R’Tom)
10 April 2011
“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,...” Kej 1:26
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kej 1:31
Bacaan:
Kej 1
Pernahkah kamu berpikir ingin menjadi seperti orang lain? Atau berpikir koq gw ga punya kemampuan seperti dia ya? Atau mengatakan “nah itu dia kelemahan gw”. “ah... gw hanya...”. Kita seringkali ingin yang ada di ‘tangan’ orang lain. Kita kurang memperhatikan siapa kita sebagai ciptaan tertinggi dari Tuhan.
Tahukah kamu bahwa Tuhan menciptakanmu dengan sempurna? Ketika Tuhan baru saja selesai menciptakan manusia, Ia mengungkapkan suatu kepuasan, “.. sungguh amat baik”. Dan sebelum Ia menciptakan manusia, Tuhan terlebih dahulu merancangkannya. Ada pola yang diambil Tuhan sendiri, yaitu gambar dan rupa-Nya. Sangat berbeda saat Tuhan akan menciptakan langit dan bumi serta isinya. Jika Tuhan mengatakan “sungguh amat baik”, berarti Ia tidak menciptakan manusia dengan kekuatan dan kelemahan. Sesungguhnya tidak ada kelemahan, yang ada hanya ada kekuatan saja.
GLOWers, pernahkah kamu melukiskan dirimu dengan sejumlah daftar kelemahan. “aku lemah di bidang ini..”, “ah... itu kelemahanku”, dan yang paling parah “kelebihanku adalah penuh dengan kelemahan”. Sesungguhnya Tuhan menaruhkan kekuatan atau kelebihan yang berbeda di setiap kita. Hanya saja manusia lebih fokus kepada kelemahan daripada kekuatan/ kelebihannya itu, dan menginginkan menjadi seperti orang lain,alias iri terhadap orang lain. Mari kita melihat diri kita sendiri, apa yang menjadi kekuatan kita? Mari kita fokus dan tingkatkan kekuatan kita. (R’Tom)
Bisa karena Biasa
Sabtu
9 April 2011
“…. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya… " Mat 17:27
Bacaan:
Luk 19:11-27
Yesus begitu akrab dengan Danau Galiela. Yesus dan murid-murid tinggal tidak jauh dari danau itu, kemungkinan besar mereka sering berkunjung ke danau itu. Danau Galilea mempunyai sekian jenis ikan. Dari sekian banyak jenis ikan itu, ada ikan yang menarik perhatian di sini. Ikan ini ketika dipancing, orang yang memancingnya dapat mnenemukan uang empat dirham di dalam mulut ikan ini.
Ikan ini bernama Cichild. Ikan ini terbiasa untuk menyimpan dan melindungi. Ketika ikan ini bertelur, telurnya sangat banyak. Ia menyimpan telurnya di dalam mulutnya. Hingga saatnya telur-telur itu menetas menajdi anak ikan, barulah anak ikan itu dilepaskan dari mulutnya. Ketika anak-anaknya dalam bahaya, sigap ia memasukkan anak-anaknya masuk ke dalam mulutnya, hingga anak-anak ikan itu cukup besar dan tidak muat lagi dalam mulut induknya itu. Perbuatan yang berulang-ulang itu melewati lintas waktu, menghasilkan suatu kebiasaan. Ketika anak-anak ikan telah dewasa, induk ikan sering ke dasar danau, ia menyimpan apa saja dalam mulutnya. Itulah sebabnya uang empat dirham itu dapat ditemukan di dalam mulut ikan itu. Tuhan memakai ikan Cichild ini berawal dari ‘ kebiasaan’ kecil yang sering terlatih. Awesome, right? (Silahkan lihat videonya di: http://motivationarea.blogspot.com/2011/03/cichild-mouth-brooding-fish-di-danau.html)
GLOWers, kita sering tidak sadar akan potensi yang Tuhan titipkan dalam diri kita. Kalaupun tau, terkadang kita malas untuk melatihnya, karena kita menganggap ga terlalu seru tuh. Kecenderungan untuk menjadi orang lain lebih besar daripada usaha untuk meningkatkan kemampuan kita itu sendiri. Yuk kita temukan potensi kita dan melatihnya semaksimal mungkin. Buatlah aktifitasmu menjadi kebiasaan, Tuhan akan mempromosikan engkau, mengangkat engkau diantara orang-orang terhormat. (R’Tom)
9 April 2011
“…. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya… " Mat 17:27
Bacaan:
Luk 19:11-27
Yesus begitu akrab dengan Danau Galiela. Yesus dan murid-murid tinggal tidak jauh dari danau itu, kemungkinan besar mereka sering berkunjung ke danau itu. Danau Galilea mempunyai sekian jenis ikan. Dari sekian banyak jenis ikan itu, ada ikan yang menarik perhatian di sini. Ikan ini ketika dipancing, orang yang memancingnya dapat mnenemukan uang empat dirham di dalam mulut ikan ini.
Ikan ini bernama Cichild. Ikan ini terbiasa untuk menyimpan dan melindungi. Ketika ikan ini bertelur, telurnya sangat banyak. Ia menyimpan telurnya di dalam mulutnya. Hingga saatnya telur-telur itu menetas menajdi anak ikan, barulah anak ikan itu dilepaskan dari mulutnya. Ketika anak-anaknya dalam bahaya, sigap ia memasukkan anak-anaknya masuk ke dalam mulutnya, hingga anak-anak ikan itu cukup besar dan tidak muat lagi dalam mulut induknya itu. Perbuatan yang berulang-ulang itu melewati lintas waktu, menghasilkan suatu kebiasaan. Ketika anak-anak ikan telah dewasa, induk ikan sering ke dasar danau, ia menyimpan apa saja dalam mulutnya. Itulah sebabnya uang empat dirham itu dapat ditemukan di dalam mulut ikan itu. Tuhan memakai ikan Cichild ini berawal dari ‘ kebiasaan’ kecil yang sering terlatih. Awesome, right? (Silahkan lihat videonya di: http://motivationarea.blogspot.com/2011/03/cichild-mouth-brooding-fish-di-danau.html)
GLOWers, kita sering tidak sadar akan potensi yang Tuhan titipkan dalam diri kita. Kalaupun tau, terkadang kita malas untuk melatihnya, karena kita menganggap ga terlalu seru tuh. Kecenderungan untuk menjadi orang lain lebih besar daripada usaha untuk meningkatkan kemampuan kita itu sendiri. Yuk kita temukan potensi kita dan melatihnya semaksimal mungkin. Buatlah aktifitasmu menjadi kebiasaan, Tuhan akan mempromosikan engkau, mengangkat engkau diantara orang-orang terhormat. (R’Tom)
Jangan Setengah-setengah
Jumat
8 April 2011
“Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” . Gal 3:24
Bacaan:
Gal 3:15-29
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak rela membiarkan manusia itu binasa. Allah sangat mengasihi mahakarya-Nya yang disebut-Nya sempurna itu. Allah merencanakan penyelamatan manusia, Allah memberi janji penyelamatan untuk umat-Nya itu, melalui nabi-nabi-Nya. Namun perjanjian itu dilanggar oleh Israel, sehingga perjanjian itu harus diperbaharui dalam diri Yesus Kristus.
Banyak orang sekarang ini yang ingin kembali ke zaman Perjanjian Lama, ada juga yang ingin membuang Perjanjian Lama (PL) dan hanya membaca alkitab Perjanjian Baru (PB) saja. Janji-janji Allah itu banyak terdapat dalam PL. Hukum Taurat itu adalah terdapat dalam PL. Hukum Taurat itu adalah ‘penuntun’ (paidagogos = school master = budak yang mengawasi anak tuannya dari usia 7-18 tahun). Jadi Hukum Taurat adalah paidagogos sampai Yesus datang sebagai penggenapan janji Bapa bagi manusia. Oleh sebab itu PL dan PB itu tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan.
GLOWers, ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi kita, kita sudah dibenarkan karena iman, kita menerima Hukum Kristus. Yesus itulah bukti nyata Perjanjian Baru itu. Walaupun demikian kita tidak dapat memisahkan antar PL dan PB itu. Janganlah kita setengah-setengah menerima kebenaran Firman Tuhan itu. Tetapi kita juga tidak perlu lagi diperhamba oleh Hukum Taurat, karena yang berlaku atas kita sekarang adalah Hukum Kristus. (R’Tom)
8 April 2011
“Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” . Gal 3:24
Bacaan:
Gal 3:15-29
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak rela membiarkan manusia itu binasa. Allah sangat mengasihi mahakarya-Nya yang disebut-Nya sempurna itu. Allah merencanakan penyelamatan manusia, Allah memberi janji penyelamatan untuk umat-Nya itu, melalui nabi-nabi-Nya. Namun perjanjian itu dilanggar oleh Israel, sehingga perjanjian itu harus diperbaharui dalam diri Yesus Kristus.
Banyak orang sekarang ini yang ingin kembali ke zaman Perjanjian Lama, ada juga yang ingin membuang Perjanjian Lama (PL) dan hanya membaca alkitab Perjanjian Baru (PB) saja. Janji-janji Allah itu banyak terdapat dalam PL. Hukum Taurat itu adalah terdapat dalam PL. Hukum Taurat itu adalah ‘penuntun’ (paidagogos = school master = budak yang mengawasi anak tuannya dari usia 7-18 tahun). Jadi Hukum Taurat adalah paidagogos sampai Yesus datang sebagai penggenapan janji Bapa bagi manusia. Oleh sebab itu PL dan PB itu tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan.
GLOWers, ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi kita, kita sudah dibenarkan karena iman, kita menerima Hukum Kristus. Yesus itulah bukti nyata Perjanjian Baru itu. Walaupun demikian kita tidak dapat memisahkan antar PL dan PB itu. Janganlah kita setengah-setengah menerima kebenaran Firman Tuhan itu. Tetapi kita juga tidak perlu lagi diperhamba oleh Hukum Taurat, karena yang berlaku atas kita sekarang adalah Hukum Kristus. (R’Tom)
Rabu, 06 April 2011
Luar dan Dalam
“Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?” Luk 11:40
Bacaan: Luk 11:37-54
Seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus menyambut baik undangan itu. Tetapi ternyata undangan itu tidak dapat menerima Yesus, justru sebaliknya mencari kesalahan Yesus saja. Bisanya ketika seseorang mengundang orang lain untuk makan, tentulah ada maksud untuk lebih dekat dengan orang itu, menerima orang itu, saling bertukar informasi tentang diri mereka masing-masing. Dan si pengundang biasanya harus melayani orang yang diundangnya itu.
Orang Farisi sudah terbiasa hidup dengan segala aturan adat dan peraturan hukum Tuhan. Adakalanya mereka mencampurkan antara hokum Tuhan dan adat istiadat mereka. Dari sejak kecil mereka sudah terbiasa dan dilatih untuk mentaati peraturan-peraturan mereka itu. Dalam perikop ini menceritakan bahwa Orang Farisi ini menganggap Yesus berdosa karena makan tidak cuci tangan. Yesus pun menegur dia, karena orang Farisi terbiasa terlihat rapi menjalani peraturan pada bagian luar saja, tetapi mereka sebenarnya tidak melakukan keadilan, hati mereka tidak seindah apa yang kelihatan dari luar.
GLOWers, kita sering menyerukan bahwa hidup kita untuk kemuliaan Tuhan, kita memuji Tuhan dengan sukacita dan alim di gereja, kita terlihat sangat rohani di gereja, tetapi bagaimana dengan hidup kita sehari-hari. Temans, yuk kita koreksi diri kita… mari kita juga berbuat keadilan, saling melayani dan berbuat kasih. Lakukanlah seperti untuk Tuhan, sehingga ‘luar dalam’ kita berkenan kepada Tuhan. (R’Tom)
Bacaan: Luk 11:37-54
Seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus menyambut baik undangan itu. Tetapi ternyata undangan itu tidak dapat menerima Yesus, justru sebaliknya mencari kesalahan Yesus saja. Bisanya ketika seseorang mengundang orang lain untuk makan, tentulah ada maksud untuk lebih dekat dengan orang itu, menerima orang itu, saling bertukar informasi tentang diri mereka masing-masing. Dan si pengundang biasanya harus melayani orang yang diundangnya itu.
Orang Farisi sudah terbiasa hidup dengan segala aturan adat dan peraturan hukum Tuhan. Adakalanya mereka mencampurkan antara hokum Tuhan dan adat istiadat mereka. Dari sejak kecil mereka sudah terbiasa dan dilatih untuk mentaati peraturan-peraturan mereka itu. Dalam perikop ini menceritakan bahwa Orang Farisi ini menganggap Yesus berdosa karena makan tidak cuci tangan. Yesus pun menegur dia, karena orang Farisi terbiasa terlihat rapi menjalani peraturan pada bagian luar saja, tetapi mereka sebenarnya tidak melakukan keadilan, hati mereka tidak seindah apa yang kelihatan dari luar.
GLOWers, kita sering menyerukan bahwa hidup kita untuk kemuliaan Tuhan, kita memuji Tuhan dengan sukacita dan alim di gereja, kita terlihat sangat rohani di gereja, tetapi bagaimana dengan hidup kita sehari-hari. Temans, yuk kita koreksi diri kita… mari kita juga berbuat keadilan, saling melayani dan berbuat kasih. Lakukanlah seperti untuk Tuhan, sehingga ‘luar dalam’ kita berkenan kepada Tuhan. (R’Tom)
Mauu??
Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan.
Luk 11:35
Bacaan: Lukas 11:33-36
“Kamu adalah terang dunia”. Tuhan Yesus meyakinkan suatu gelar atau tanggung jawab kepada murid-murid yaitu sebagai ‘terang dunia’. Saat Yesus mengatakan demikian, murid-murid telah menjadi terang, atau bisa aja saat itu murid-murid belum sadar akan jati diri mereka, sampai Yesus membukakan mata mereka dan melihat bahwa mereka adalah terang dunia.
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita menerima ‘terang’ dari Dia. Terang yang kita terima itu harus kita jaga tetap menyala dalam diri kita dan juga dibagikan kepada orang lain. Nah… masalah klasiknya bagaimana cara mempertahankan terang itu agar selalu menyala dalam hidup kita. Alkitab mengatakan “perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan”. Terang itu sifatnya memancarkan, dapat dilihat orang lain. Terang itu tidak mungkin tersembunyi. Perbuatan baik itu harus dikerjakan.
GLOWers, maukah kamu untuk menjaga terang yang telah Yesus kasih buat kita semua. Perhatikan dan berjagalah supaya terang kita jangan padam. Untuk menjaga agar terang itu tetap menyala, hidup kita harus dekat dengan sumber terang yang sesungguhnya, mau dibersihkan dan diberi minyak. Maukah kamu hidup ga berbohong lagi, ga ngomong yang ga sopan. Yuk mari kita menghidupi hidup yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing, dengan tetap dekat dengan sumber terang itu, yaitu Tuhan Yesus, kemudian menjauhkan diri dari kejahatan, serta mau dibimbing oleh Roh Kudus. Semuanya itu hanya untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus. (R’Tom)
Luk 11:35
Bacaan: Lukas 11:33-36
“Kamu adalah terang dunia”. Tuhan Yesus meyakinkan suatu gelar atau tanggung jawab kepada murid-murid yaitu sebagai ‘terang dunia’. Saat Yesus mengatakan demikian, murid-murid telah menjadi terang, atau bisa aja saat itu murid-murid belum sadar akan jati diri mereka, sampai Yesus membukakan mata mereka dan melihat bahwa mereka adalah terang dunia.
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita menerima ‘terang’ dari Dia. Terang yang kita terima itu harus kita jaga tetap menyala dalam diri kita dan juga dibagikan kepada orang lain. Nah… masalah klasiknya bagaimana cara mempertahankan terang itu agar selalu menyala dalam hidup kita. Alkitab mengatakan “perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan”. Terang itu sifatnya memancarkan, dapat dilihat orang lain. Terang itu tidak mungkin tersembunyi. Perbuatan baik itu harus dikerjakan.
GLOWers, maukah kamu untuk menjaga terang yang telah Yesus kasih buat kita semua. Perhatikan dan berjagalah supaya terang kita jangan padam. Untuk menjaga agar terang itu tetap menyala, hidup kita harus dekat dengan sumber terang yang sesungguhnya, mau dibersihkan dan diberi minyak. Maukah kamu hidup ga berbohong lagi, ga ngomong yang ga sopan. Yuk mari kita menghidupi hidup yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing, dengan tetap dekat dengan sumber terang itu, yaitu Tuhan Yesus, kemudian menjauhkan diri dari kejahatan, serta mau dibimbing oleh Roh Kudus. Semuanya itu hanya untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus. (R’Tom)
Senin, 04 April 2011
Mintalah
"Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." Luk 11:1
Bacaan: Luk 11:1-13
Sejak awal kekristenan, orang Kristen lebih suka sesuatu yang berpola, sistematik, ritual teratur untuk datang berdoa kepada Sang Pencipta. Permintaan murid-murid adalah pertanyaan yang tidak tepat, karena mereka seperti tidak menghargai ajaran Yesus selama ini, mereka mau menjadi ‘seperti’ ajaran orang lain. Mereka tidak puas dengan ajaran Yesus. Tetapi anehnya, Yesus langsung menjawab permintaan mereka, Yesus langsung mengajarkan bagaimana ‘ritual’ berdoa itu seperti yang diharapkan murid yang bertanya itu.
Pada kenyataannya Yesus lebih menekankan hal yang berbeda dari sekedar ‘ ritual’ berdoa itu. Yesus berkata, “mintalah, maka akan diberikan kepadamu…”, artinya ketika kita datang berdoa kepada Tuhan, dengan apa adanya. Jika kita butuh atau menginginkan sesuatu caranya hanya dengan meminta saja, tidak perlu pakai ritual ini dan itu. Tuhan Yesus tidak menekankan harus berbuat ini, harus berbuat itu sebelum kita berdoa. Hanya saja, ketika kita datang berdoa kepada Sang Pencipta itu, baiknya kita datang dengan pebuh hormat.
GLOWers, apa sih yang kamu inginkan ini? Apa yang kemu idamkan? Minta saja kepada Bapa kita, Sang Pencipta. Seringkali kita tidak mengerti apa yang kita minta. Kita meminta sesuatu yang kurang menghormati Bapa kita, atau dengan sebutan lain sesuatu yang tidak Tuhan kehendaki. Sekalipun yang kita minta itu kadang tidak tepat sasaran, tetapi Bapa yang baik itu tetap mengajar dan memberi pengertian kepada kita. Seiring waktu kita hidup di dalam Tuhan kita akan mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Janganlah kita jadi takut meminta kepada Tuhan. Mintalah… sekaligus juga mempelajari apakah permintaan kita berkenan di hadapan Tuhan atau tidak. Untuk segala sesutu yang kau butuhkan dan inginkan, mintalah kepada Tuhan. Tuhan pasti mengajarkan kita apakah doa kita berkenan atau tidak berkenan. (R’Tom).
Bacaan: Luk 11:1-13
Sejak awal kekristenan, orang Kristen lebih suka sesuatu yang berpola, sistematik, ritual teratur untuk datang berdoa kepada Sang Pencipta. Permintaan murid-murid adalah pertanyaan yang tidak tepat, karena mereka seperti tidak menghargai ajaran Yesus selama ini, mereka mau menjadi ‘seperti’ ajaran orang lain. Mereka tidak puas dengan ajaran Yesus. Tetapi anehnya, Yesus langsung menjawab permintaan mereka, Yesus langsung mengajarkan bagaimana ‘ritual’ berdoa itu seperti yang diharapkan murid yang bertanya itu.
Pada kenyataannya Yesus lebih menekankan hal yang berbeda dari sekedar ‘ ritual’ berdoa itu. Yesus berkata, “mintalah, maka akan diberikan kepadamu…”, artinya ketika kita datang berdoa kepada Tuhan, dengan apa adanya. Jika kita butuh atau menginginkan sesuatu caranya hanya dengan meminta saja, tidak perlu pakai ritual ini dan itu. Tuhan Yesus tidak menekankan harus berbuat ini, harus berbuat itu sebelum kita berdoa. Hanya saja, ketika kita datang berdoa kepada Sang Pencipta itu, baiknya kita datang dengan pebuh hormat.
GLOWers, apa sih yang kamu inginkan ini? Apa yang kemu idamkan? Minta saja kepada Bapa kita, Sang Pencipta. Seringkali kita tidak mengerti apa yang kita minta. Kita meminta sesuatu yang kurang menghormati Bapa kita, atau dengan sebutan lain sesuatu yang tidak Tuhan kehendaki. Sekalipun yang kita minta itu kadang tidak tepat sasaran, tetapi Bapa yang baik itu tetap mengajar dan memberi pengertian kepada kita. Seiring waktu kita hidup di dalam Tuhan kita akan mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Janganlah kita jadi takut meminta kepada Tuhan. Mintalah… sekaligus juga mempelajari apakah permintaan kita berkenan di hadapan Tuhan atau tidak. Untuk segala sesutu yang kau butuhkan dan inginkan, mintalah kepada Tuhan. Tuhan pasti mengajarkan kita apakah doa kita berkenan atau tidak berkenan. (R’Tom).
Langganan:
Postingan (Atom)